Surabaya (beritajatim.com) – Dr. Sumiati, M.M., Wakil Rektor 3 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, memiliki latar belakang karier yang unik, menggabungkan pengalaman akademis dengan kiprah di politik praktis nasional.
Dikenal sebagai akademisi senior, Sumiati ternyata pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dan terlibat langsung dalam strategi kampanye artis dan politisi, Krisdayanti.
Keterlibatan Sumiati dalam politik dimulai jauh sebelum ia menjabat di Untag. Ia tercatat sebagai anggota DPRD Jatim Komisi E (bidang kesehatan, pendidikan, dan sosial) dari tahun 2009 hingga 2014.
Setelah masa jabatannya selesai, panggilan politik masih memanggil. Ia sempat bergabung dalam tim kampanye legislatif penyanyi kondang, Krisdayanti.
Bersama suami Krisdayanti, Raul Lemos, Sumiati duduk sebagai Steering Committee (SC). Pengalaman ini memberinya wawasan berharga tentang strategi memenangkan kursi legislatif.
Meski sukses di panggung politik, Sumiati menegaskan bahwa pendidikan adalah panggilan jiwanya. Ia memilih kembali sepenuhnya ke dunia akademik setelah berkarier sebagai legislator.
“Politik hanyalah ruang suka, sementara panggilan hati sejatinya tetap di pendidikan,” ujarnya, Selasa (7/10/2025).
Wanita kelahiran Gresik ini telah menjadi dosen di Untag Surabaya sejak tahun 1996. Selama menjadi legislator, ia tetap konsisten menempuh studi dan berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Ekonomi dari Untag pada tahun 2013.
Komitmennya pada kampus memuncak ketika ia dilantik sebagai Wakil Rektor 3 Untag Surabaya pada 19 Agustus 2025. Di kampus, ia dikenal sebagai sosok kunci yang memprakarsai pendirian Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P1 Untag dan menjadi Master Assessor BNSP satu-satunya di kampus tersebut.
Sebelum mengabdikan diri di Untag dan terjun ke politik, Dr. Sumiati juga sempat menjajal dunia media. Ia pernah bekerja di SCTV Surabaya (1992-1996) di Departemen Programming. Di sana, ia mendapat pelatihan langsung dari budayawan ternama, Arswendo Atmowiloto, untuk menulis sinopsis film yang dianggap mampu memikat pemirsa.
Dalam perjalanannya, ia sempat dijuluki “Mrs. Struggle” di forum-forum politik karena keteguhan prinsipnya. Baginya, bekal utama dalam hidup adalah bekerja dengan totalitas, dengan pendidikan yang melatih konsistensi dan politik yang membentuknya tangguh menghadapi beragam karakter manusia.
“Saya berusaha untuk menerima, bersyukur, dan berpikir positif. Orang mau berbicara apa pun tentang saya, tidak peduli. Yang tahu diri saya adalah saya,” pungkasnya. [ipl/aje]






