Surabaya (beritajatim.com) – Rekam jejak intelektual lulusan Universitas Airlangga (Unair) terus mewarnai dunia psikologi Indonesia. Dr. Dra. Soerjantini Rahaju, M.A., Psikolog, kini memegang kemudi Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Jawa Timur.
Doktor lulusan 2020 ini resmi mengemban mandat sebagai Ketua HIMPSI Jawa Timur sejak Mei 2024. Masa baktinya memimpin organisasi profesi tersebut akan berjalan hingga 2028 mendatang.
“Kami berkomitmen penuh mengawal kualitas layanan psikologi profesi ini. Harapannya, langkah ini terus memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat Jawa Timur,” kata Soerjantini, Kamis (25/62026).
Selain memimpin organisasi, ia juga memegang jabatan struktural di dunia pendidikan tinggi. Ia dipercaya sebagai Wakil Dekan I Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya).
Jabatan yang berfokus pada pengembangan akademik tersebut ia jalankan untuk periode 2023 hingga 2027. Di sela kesibukan kampus, ia tetap mempraktikkan keilmuan klinisnya.
“Fokus layanan kami di Pusat Konsultasi dan Layanan Psikologi Ubaya banyak menangani problem komunikasi pasangan. Kami juga membantu manajemen konflik internal keluarga,” ujarnya.
Sebagai konselor keluarga bersertifikasi, pakar psikologi ini sering menjadi rujukan masyarakat. Ia banyak membantu mengurai kerumitan masalah rumah tangga di era modern yang kian kompleks.
Ketajaman analisis keilmuannya juga tertuang dalam berbagai riset mutakhir. Sepanjang 2023 hingga 2024, ia rajin meneliti fenomena sosial generasi muda di tengah arus digitalisasi.
Salah satu kajiannya membedah fenomena penggemar budaya pop Korea. Ia menelisik hubungan antara kualitas relasi orang tua dan anak dengan perilaku pemujaan idola.
“Temuan riset ini memberi pandangan baru bagi orang tua dan pendidik. Pola perilaku remaja sangat dipengaruhi oleh kedekatan relasi mereka di rumah,” jelasnya.
Kepekaan akademisi ini berlanjut pada riset krisis emosional usia seperempat abad. Ia menghubungkan fase transisi ini dengan tingkat kesiapan seseorang melangkah ke jenjang pernikahan.
Kajian tersebut diharapkan bisa membantu generasi Z menghadapi ketidakpastian hidup. Selain itu, ia juga merancang instrumen skala pengukur kualitas hidup keluarga versi Indonesia.
“Kehadiran instrumen lokal ini sangat dibutuhkan agar proses diagnosis lebih akurat. Pengukuran psikologis keluarga Indonesia harus sesuai dengan karakteristik budaya ketimuran,” paparnya.
Sinergi perannya sebagai pendidik, peneliti, dan pemimpin organisasi menegaskan kontribusi nyatanya. Kiprah panjang ini membawa solusi berkelanjutan demi menjaga stabilitas mental masyarakat luas. [ipl/kun]






