Surabaya (beritajatim.com) – Kampus swasta di Indonesia terancam mengalami financial distress atau kesulitan keuangan akibat kebijakan Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) yang masif menambah kuota jalur mandiri berbiaya tinggi.
Dampak dari kebijakan itu, perguruan tinggi swasta (PTS) harus menghadapi tantangan berat berupa penurunan jumlah pendaftar. Kondisi inilah yang dikhawatirkan memicu financial distress pada PTS.
Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Supangat, M.Kom., Ph.D mengungkapkan bahwa perubahan pola penerimaan mahasiswa oleh PTN-BH tersebut sangat memengaruhi dinamika keuangan PTS.
“Saat ini banyak PTN-BH menambah kuota jalur mandiri dengan biaya tinggi untuk meningkatkan pendapatan. Dampaknya, mahasiswa yang biasanya masuk ke PTS kini memilih PTN-BH, karena dianggap lebih prestisius walaupun biayanya sama atau bahkan lebih mahal,” ujar Supangat, Sabtu (27/9/2025).
Ia menjelaskan, situasi ini menyebabkan penurunan jumlah pendaftar di PTS. Jika tidak diatasi, institusi tidak akan mampu memenuhi kewajiban keuangannya tepat waktu, seperti membayar gaji dosen dan staf, menutupi biaya operasional, atau berinvestasi untuk pengembangan.
Menghadapi tantangan tersebut, Untag Surabaya berkomitmen melakukan transformasi strategis secara menyeluruh, tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga beradaptasi dan berinovasi.
“Fokus utama ada pada peningkatan kualitas dosen dan layanan mahasiswa. Mahasiswa yang puas akan menjadi agen promosi terbaik bagi kampus,” tegas Supangat.
Selain itu, ia menekankan perlunya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif, optimal, dan transparan sebagai langkah mutlak.
Dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), Untag Surabaya juga berupaya menjamin kesejahteraan karyawan melalui kompensasi yang layak, perbaikan sistem rekrutmen dan retensi, serta penciptaan lingkungan kerja yang positif.
Sementara itu, Rektor Untag Surabaya, Prof. Mulyanto Nugroho menyebut bahwa pihaknya telah mencatat sejumlah prestasi seperti sertifikasi AUN-QA pada beberapa program studi dan pengukuhan guru besar ke-29 dan ke-30 beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan bahwa ke depan, fokus Untag Surabaya adalah berkiprah di level internasional baik dalam riset maupun pengabdian. “Fokusnya berkiprah di level internasional, riset maupun pengabdian,” tandasnya.
Sekadar informasi, Untag Surabaya telah menggelar Rapat Kerja Bidang Akademik dan Non Akademik pada 18-19 September 2025. Agenda ini menjadi forum strategis untuk merumuskan arah kebijakan kampus ke depan. [ipl/ian]






