Jember (beritajatim.com) – Pemerintah :Provinsi Jawa Timur lebih mengkhawatirkan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) sapi daripada human metapneumovirus (HMPV).
HMPV adalah wabah virus yang menyerang manusia yang saat ini terjadi di China. Pandemi Covid-19 dulu juga berawal dari negara tersebut. Sementara PMK menyerang sapi ternak di sejumlah kabupaten di Jatim.
Penjabat Gubernur Jatim Adhy Karyono menyatakan belum ada laporan warga yang terjangkit HMPV. “Tapi kami sudah mulai antisipasi, dan untuk keberangkatan ke China sudah ditunda. Tentu kami akan imbau, kalau di China sudah meluas, kita akan (perlakukan) sama dengan Covid kemarin,” katanya, dalam acara simulasi program Makan Bergizi Gratis yang diprakarsai Pramuka Kwartir Daerah Jawa Timur, di Arum Sabil City Forest, Kabupaten Jember, Rabu (8/1/2024).
Pengalaman bangsa Indonesia menghadapi Covid, menurut Adhy, sangat berharga untuk menghadapi kemungkinan serangan HMPV. “Kita sudah mengalami masa-masa itu,” kata Adhy.
“Justru yang harus kita tangani sekarang adalah PMK. Sekarang (jumlah sapi yang terkena) sudah naik sedikit, dari 25 ekor per hari menjadi 250 ekor per hari,” kata Adhy.
Saat ini ada delapan daerah yang terjangkit PMK. “Tapi kecil-kecil. Ada yang di perbatasan biasanya,” kata Adhy.
Pemprov Jatim sudah mengambil langkah sesuai surat edaran dari Menteri Pertanian. “Kami adakan isolasi. Jalur masuk diseleksi dan diperiksa untuk yang satu kali suntik vaksin. Kemudian (sapi yang terkena) diobati dan vaksinasi dilakukan sebanyak 25 ribu (suntikan),” kata Adhy.
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Jawa Timur juga digunakan untuk membeli 320 ribu vaksin. “Kita butuh 5,4 juta vaksin. Insyaallah kemarin Jawa Timur terbaik penanganan PMK-nya, akan kita ulangi lagi,” kata Adhy.
Kementerian Pertanian menyarankan agar pasar hewan ditutup selama 14 hari. “Tapi kami mengambil kebijakan tidak dulu, karena kami bisa (menangani) dengan vaksin, dengan obat, dan pemeriksaan, sehingga ekonomi masyarakat tidak terganggu,” kata Adhy. [wir]






