Jember (beritajatim.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekonomi Kabupaten Jember, Jawa Timur, tumbuh 4,53 persen pada 2022. Lebih baik daripada tahun sebelumnya yang mencatatkan angka pertumbuhan empat persen. Namun Fraksi PDI Perjuangan menilai pertumbuhan ekonomi itu masih semu.
“Kami mencermati, pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Jember, yang mencapai 4,53 persen pada 2022, masih semu. Pemerintah Kabupaten Jember masih harus menjelaskan, pada sektor apa yang sudah tumbuh, dan berapa prosentasi sumbangannya terhadap pendapatan asli daerah.” kata Alfan Yusvi, juru bicara Fraksi PDI Perjuangan.
Menurut Alfan, jika pertumbuhan ekonomi itu diarahkan berbasis usaha mikro kecil menengah, masih ada keluhan dari para pelaku yang justru merasa terpuruk. “Pemkab Jember harus menjelaskan secara rinci, sektor UMKM yang mana yang sudah digarap,” katanya.
Upaya penyelesaian masalah kemiskinan yang merupakan jargon kampanye Bupati Hendy Siswanto juga dinilai Fraksi PDIP tidak realistis. “Memang, menurut data BPS Kabupaten Jember per Desember 2022, jumlah penduduk miskin dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan pada Maret 2022 mencapai 232,73 ribu jiwa, atau setara dengan 9,39 persen dari total jumlah pendudu,” kata Alfan.
Ada pengurangan sebesar 24.360 jiwa bila dibandingkan kondisi Maret 2021 yang sebesar 257.090 jiwa. “Seharusnya, angka itu dibarengi dengan tingkat kemampuan penduduk dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Hal ini, belum kami lihat, berapa sebenarnya tingkat kemampuan daya beli penduduk, yang sudah mampu ditingkatkan melalui program Pemkab Jember,” kata Alfan.
Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Jember juga dinilai tidak tergambar secara utuh. “Klaim meningkatnya IPM sejak 2021 sebesar 67,11 persen hingga sekarang tidak dibarengi dengan kondisi riil yang dialami penduduk,” kecam Alfan.
Menurut Alfan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup, melalui pendekatan tiga dimensi dasar yang mencakup umur panjang dan sehat; pengetahuan, dan kehidupan layak. “Untuk mengukur dimensi kesehatan, digunakan angka harapan hidup waktu lahir. Faktanya, angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Jember masih cukup tinggi,” katanya.
Merespons itu, Bupati Hendy Siswanto mengatakan, BPS melakukan survei secara independen terhadap setiap aktivitas pertumbuhan. “Survei tersebut bersifat konkret dan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku,” katanya, dalam sidang paripurna Perubahan APBD 2023, di DPRD Jember, Selasa (26/9/2023) malam.
Hendy menegaskan, angka pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jember menggambarkan keadaan sebenarnya. “BPS adalah satu- satunya Lembaga yang memiliki kewenangan dalam menetapkan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), menetapkan angka pertumbuhan ekonomi, baik di tingkat pusat maupun daerah,” katanya.
Pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menempati posisi teratas sektor lapangan usaha yang berkontribusi terhadap PDRB atas dasar harga berlaku Tahun 2022, yakni sebesar 25,99 persen. Disusul oleh sektor industri pengolahan sebesar 20,82 persen, sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 14,76 persen, sektor konstruksi sebesar 7,8 persen, dan sektor informasi dan komunikasi sebesar 7,19 persen.
“Pemerintah Kabupaten Jember melalui Dinas Koperasi Usaha Mikro menggarap semua sektor UMKM yang ada melalui fasilitasi peningkatan produk yang dihasilkan oleh UMKM dari 3 K, yaitu kualitas, kuantitas, dan kontinyuitas,” kata Hendy. Dengan demikian UMKM diharapkan berdaya saing tinggi dalam pemasaran produk.
Pemkab Jember mendampingi proses perizinan dan legalitas usaha yang harus dimiliki oleh UMKM secara langsung di kelurahan dan kecamatan. “Kegiatan lain yang sudah dilakukan adalah digital marketing dan fasilitasi pemasaran produk melalui berbagai event lokal di Kabupaten Jember, regional, dan nasional,” kata Hendy.
Menurut Hendy, Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan sarana promosi dan pemasaran produk-produk UMKM Jember agar lebih dikenal luas oleh publik, serta meningkatkan omset penjualan dari pelaku usaha. Dinas Koperasi juga memfasilitasi peningkatan kualitas produk melalui berbagai macam pelatihan untuk diversifikasi produk.
Ada Pelatihan vokasional pembuatan makanan dan minuman dengan inovasi seperti pelatihan pancake durian, pengolahan minuman dari bunga mawar, dan pengolahan cabe menjadi sambal kemasan agar tidak terbuang saat panen raya.
IPM Kabupaten Jember pada 2022 adalah sebesar 67,97 atau tumbuh meningkat 0,97 poin dibandingkan capaian tahun sebelumnya. “Peningkatan pertumbuhan IPM 2022 sangat dipengaruhi oleh meningkatnya seluruh indikator pembentuknya, baik indeks kesehatan, indeks pendidikan, maupun indeks pengeluaran per kapita,” kata Hendy. Indikator pengeluaran per kapita per tahun pada 2022 mencapai Rp 9,84 juta atau meningkat 4,57 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 9,41 juta per tahun.
Hendy juga menepis anggapan AKI dan AKB di Jember masih tinggi. “Sampai dengan September 2023, jumlah kematian ibu di Kabupaten Jember sejumlah 35 kasus. Jika dibandingkan pada bulan yang sama tahun 2022, telah terjadi penurunan 14 kematian ibu,” katanya.
Demikian pula kematian bayi sampai dengan September 2023, tercatat sebanyak 170 kasus. Terjadi penurunan 46 kasus kematian dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya. “Dinas Kesehatan melaksanakan program inovasi J-EMaNT (Jember- Emergency Maternal Neonatal Team) untuk mempercepat penurunan AKI dan AKB. Ini sebuah upaya respons cepat terhadap kasus-kasus emergency pada ibu hamil dan bayi resiko tinggi,” kata Hendy. [wir]






