Pamekasan (beritajatim.com) – Sebanyak 187 pendidikan dasar dan menengah pertama yang mengalami kerusakan di Pamekasan, diajukan perbaikan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, guna meningkatkan kualitas infrastruktur pendidikan di wilayah setempat.
Usulan tersebut sebagai salah satu langkah serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, guna meningkatkan kualitas infrastruktur pendidikan. Bahkan usulan tersebut diajukan agar dapat direalisasikan pada tahun (2026) ini.
“Sekolah-sekolah yang diusulkan untuk perbaikan mencakup berbagai jenjang, mulai dari tingkat PAUD dan TK (Pendidikan Anak Usia Dini dan Taman Kanak-Kanak) hingga SMP (Sekolah Menengah Pertama). Kondisi kerusakan variatif, tentunya ada skala prioritas,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan, Akhmad Basri Yulianto, Senin (12/1/2026).
Pengajuan perbaikan tersebut sebagai respon cepat terhadap kondisi fasilitas pendidikan yang mendesak untuk segera ditangani. “Total yang kita usulkan sebanyak 187 sekolah yang tersebar di seluruh Pamekasan, sehingga dengan perbaikan ini kita harapkan proses belajar mengajar berlangsung lebih aman dan optimal,” ungkapnya.
“Rincian jumlah sekolah yang diusulkan perbaikan meliputi sebanyak 55 sekolah untuk jenjang PAUD dan TK, 103 sekolah tingkat dasar (SD) sekaligus menjadi usulan terbanyak, serta 29 sekolah lain yang masuk daftar usulan perbaikan untuk tingkat SMP,” imbuhnya.
Jenis kerusakan tersebut masuk katagori variaif, mulai dari rusak ringan, sedang hingga rusak berat. “Kerusakan ini tidak hanya disebabkan faktor usia bangunan yang sudah tua, tetapi juga oleh berbagai bencana alam. Beberapa penyebab kerusakan signifikan di antaranya kebakaran, angin kencang, dan puting beliung,” jelasnya.
*Sebagai contoh SDN Jungcangcang 3 Pamekasan,rusak karena faktor usia. Bangunan gedung sekolah sudah sangat tua dan sebagian strukturnya bahkan sudah ambruk, dan bahkan dapat mengancam keselamatan siswa dan guru. Kondisi serupa juga terjadi di lembaga pendidikan lain yang memerlukan perhatian segera,” sambung Basri.
Selain itu dampak serius akibat bencana angin kencang juga terjadi pada bangunan SDN Palengaan Laok 6. “Bencana angin kencang mengakibatkan 3 (tiga) ruang kelas rusak berat, dan tidak dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Sehingga para siswa juga dialihkan ke rumah-rumah warga sebagai alternatif,” imbuhnya.
“Situasi ini tentu saja mengganggu efektivitas pembelajaran dan kenyamanan siswa, terlebih kondisi darurat semacam ini juga menunjukkan urgensi dari usulan perbaikan yang diajukan oleh Pemkab Pamekasan kepada Kemendikdasmen,” tegasnya.
Tidak hanya itu, perbaikan infrastruktur fasilitas pendidikan juga krusial untuk memastikan lingkungan belajar yang akan dan kondusif. “Dengan adanya dukungan dari pemerintah pusat melalui Kemendikdasmen, diharapkan ratusan sekolah di Pamekasan dapat segera direvitalisasi. Sehingga proses belajar mengajar dilaksanakan di fasilitas yang layak dan mendukung pencapaian pendidikan yang lebih baik,” pungkasnya. [pin/kun]






