Malang (beritajatim.com) – Nyeri dada yang muncul saat beraktivitas dan mereda ketika beristirahat bisa jadi bukan sekadar kelelahan biasa, melainkan gejala khas dari penyakit jantung koroner, sang pembunuh nomor satu di dunia. Para ahli jantung menekankan pentingnya mengenali tanda awal ini untuk mencegah akibat fatal.
Menjawab tantangan tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) meluncurkan dua senjata baru: sebuah aplikasi canggih berbasis kecerdasan buatan bernama ‘Detak’ dan Buku Pedoman Standar Layanan Kardiovaskular Nasional. Keduanya diresmikan dalam forum ilmiah akbar 24th Malang Cardiovascular Update (MCVU) di Hotel Grand Mercure, Malang, Jumat (22/8/2025).
Ketua Pelaksana 24th MCVU, dr. Wella Karolina, Sp.JP, menjelaskan bahwa gejala penyakit jantung koroner seringkali sangat spesifik.
“Gejala paling khas dari penyakit jantung koroner adalah nyeri dada. Uniknya, nyeri ini dipicu oleh aktivitas dan akan berkurang atau hilang dengan istirahat,” ungkap dr. Wella.
Ia menambahkan, ada kelompok orang yang lebih rentan terkena penyakit ini karena memiliki faktor risiko. Faktor risiko ini terbagi dua: Tidak dapat diubah: Usia (semakin tua, semakin berisiko) dan riwayat keluarga. Dapat diubah: Hipertensi (tekanan darah tinggi), diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, dan kebiasaan merokok.
“Untuk kelompok dengan faktor risiko yang bisa diubah inilah kami gencarkan upaya preventif, agar tidak sampai terjadi serangan jantung,” tegasnya.
Untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan, PERKI Cabang Malang menghadirkan dua inovasi monumental. Pertama, aplikasi ‘Detak’. Ketua PERKI Cabang Malang, Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp.JP(K), menjelaskan bahwa ‘Detak’ bukan sekadar aplikasi kesehatan biasa.
Aplikasi yang sudah diunduh lebih dari 20.000 pengguna ini memiliki fitur-fitur vital. Pengguna bisa memasukkan keluhan nyeri dada, dan aplikasi akan membantu mengarahkan apakah gejala tersebut khas penyakit jantung atau tidak.Aplikasi Detak juga dilengkapi artikel kesehatan, pengingat minum obat, dan jadwal kontrol ke dokter.
“ Jika terjadi kondisi darurat di mana saja, fitur ini akan menunjukkan rumah sakit terdekat yang memiliki fasilitas lengkap untuk penanganan jantung, sehingga pasien tidak kehilangan waktu berharga. Deteksi risiko berbasis AI, dengan memasukkan data seperti usia, jenis kelamin, dan faktor risiko (diabetes, hipertensi), algoritma artificial intelligence akan menghitung tingkat risiko seseorang terkena penyakit jantung,” ujar Prof Saifur.
Sementara iu, inovasi kedua adalah buku pedoman yang akan menjadi acuan bagi seluruh tenaga kesehatan di Indonesia. Buku ini disusun agar pelayanan jantung di Puskesmas hingga rumah sakit pusat rujukan memiliki standar yang sama.
Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa setiap tenaga medis dapat bekerja sesuai kompetensi dan sarana yang tersedia, serta merujuk pasien apabila kasus yang dihadapi berada di luar lingkup kewenangannya dasn keterbatasan Saranÿa yang dimiliki.
“Hal ini sejalan dengan upaya PERKI dan Kemenkes dalam melakukan standarisasi dan pemerataan pelayanan kardiovaskular, melalui pembentukan jejaring kardiovaskular yang terintegrasi di seluruh pelosk tanah air. Jadi, di manapun pasien berada, ia akan mendapat penanganan sesuai alur yang tepat dan cepat, sejalan dengan sistem Kemenkes dan BPJS,” jelas Prof. Saifur.
Acara MCVU tahun ini digelar bersamaan dengan 14th INAecho Meeting, pertemuan ahli ekokardiografi (USG jantung). Teknologi pencitraan ini sangat krusial untuk menilai tingkat kerusakan otot jantung pasca-serangan dan memprediksi prognosis pemulihan pasien.
Di tingkat nasional, Ketua Umum Pengurus Pusat PERKI, Dr. dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP(K), Ph.D., mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan kekurangan dokter jantung.
“Saat ini kita memiliki sekitar 1.933 dokter jantung aktif, padahal kebutuhan idealnya hampir 3.000. Inovasi seperti aplikasi ‘Detak’ dan standardisasi layanan melalui buku pedoman menjadi sangat penting untuk menjembatani kesenjangan ini,” ujar Dr. Ade.
Forum ilmiah di Malang yang dihadiri 383 peserta ini menjadi bukti komitmen kuat para dokter jantung Indonesia untuk terus berinovasi. Mereka berupaya menekan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular di Tanah Air. (dan/ian)






