Jakarta (beritajatim.com) – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak, menunjukkan aksi langsung dalam membangun semangat calon petugas haji dengan ikut serta dalam kegiatan fisik pada Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Tahun 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Tidak sekadar meninjau, Dahnil Anzar turun langsung berlari sejauh 7 kilometer bersama peserta diklat yang dinilai memiliki kondisi fisik prima. Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian pelatihan kebugaran yang tengah menjadi perhatian publik.
Dahnil mengungkapkan adanya perubahan sikap yang signifikan dari para peserta setelah menjalani satu pekan masa pelatihan. Ia mengakui, pada awal pelaksanaan, tidak sedikit peserta yang mencibir dan meragukan konsep pelatihan semi-militer yang diterapkan Kementerian Haji dan Umrah.
“Minggu pertama banyak perubahan. Di awalnya mereka itu mencibir, mungkin wartawan juga begitu karena menganggap ini militerisme. Tapi faktanya, setelah satu minggu, mereka justru mendapatkan kegembiraan, kedisiplinan, dan kekompakan,” ujar Dahnil Anzar.
Ia pun meminta publik untuk tidak terjebak pada ketakutan berlebihan terhadap nilai-nilai yang identik dengan dunia militer, atau yang ia sebut sebagai militari-fobia. Menurutnya, terdapat nilai positif seperti disiplin dan keteraturan yang relevan untuk meningkatkan kualitas pelayanan haji.
Terkait sorotan terhadap aktivitas fisik dalam diklat, Dahnil menegaskan bahwa seluruh latihan dilakukan secara berjenjang, terukur, dan berada di bawah pengawasan instruktur dari unsur TNI dan Polri. Target lari yang ditetapkan pun disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta.
“Tadi yang kuat lari bareng saya 7 kilo. Bapak-bapak TNI dan Polisi menyarankan jangan langsung jauh, pelan-pelan dulu, mulai dari jalan. Jadi ini terukur kapasitasnya,” jelasnya.
Dahnil menekankan bahwa pelatihan PPIH tidak semata berfokus pada fisik. Kementerian Haji dan Umrah menerapkan keseimbangan antara kebugaran jasmani, penguatan kapasitas teknis, dan pendalaman spiritual. Selain latihan fisik, peserta juga dibekali materi bahasa Arab, fiqih haji, serta penguatan kompetensi teknis perhajian lainnya setiap hari.
Ia optimistis, para petugas hasil diklat ini akan menjadi kekuatan penting dalam mendukung penyelenggaraan ibadah haji di Arab Saudi di bawah kepemimpinan Laksamana Pertama Ian Heriawan. Menurutnya, progres peserta menunjukkan tiga elemen utama yang sangat dibutuhkan dalam pelayanan haji.
“Kalau tidak gembira, tidak akan muncul keikhlasan untuk melayani. Karena tugas mereka ini adalah melayani jemaah haji, maka suasana hati yang gembira itu sangat penting,” pungkas Dahnil Anzar. [ian/beq]






