Ponorogo (beritajatim.com) – Padi menjadi komoditas pangan andalan di Kabupaten Ponorogo. Bahkan, produktivitas padi di Bumi Reog masuk 10 besar di Provinsi Jawa Timur (Jatim) berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 lalu.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo pun terus berupaya mempertahankan dan meningkatkan produktivitas padi untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di Indonesia. Melalui sejumlah program dukungan bagi petani, pemerintah daerah setempat mendorong peningkatan hasil panen dan menjaga keberlanjutan produksi padi sebagai komoditas strategis di wilayah perbatasan antara Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa Tengah ini.
Dalam 3 tahun terakhir, setidaknya sejumlah program pro-petani sudah berjalan.Mulai bantuan pupuk, dan alat dan mesin pertanian (Alsintan). Selain itu juga ada program irigasi air tanah dalam (IATD), hingga jaringan listrik masuk sawah.
Lahan sawah yang produktif, menjadi salah satu faktor utama yang memungkinkan kabupaten ini terus berkontribusi dalam menyuplai kebutuhan pangan. Namun, ancaman seperti perubahan iklim, peralihan fungsi lahan, serta keterbatasan sumber daya air menuntut perhatian serius dalam menjaga stabilitas produktivitas padi.
Upaya untuk melindungi lahan sawah untuk pertanian, pada tahun ini eksekutif dan legislatif mengesahkan Raperda Rencana Tata Ruang Wilayah. Dalam Perda itu, ada zona pertanian dan pangan berkelanjutan. Sehingga yang masuk zona tersebut, tidak bisa dilakukan alih fungsi lahan.
Tribudi Widodo, Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian , Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo, mengungkapkan bahwa pendampingan terhadap petani selalu dilakukan.
Dengan kedekatan itu, bisa memberikan program yang benar-benar menyasar dan menjadi solusi dari permasalahan yang dihadapi oleh petani di Ponorogo. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, memastikan distribusi pupuk bersubsidi aman dan tepat sasaran serta tidak ada penyelewengan.
‘’Pendampingan dan pembuatan program yang jelas memecahkan permasalahan petani, merupakan upaya untuk memastikan hasil panen yang optimal. Dukungan ini penting agar produktivitas padi bisa bertahan, bahkan meningkat,’’ kata Budi, sapaan Tribudi Widodo, Sabtu (2/11/2024).
Penerapan teknologi pertanian modern juga mulai dilakukan oleh petani di Ponorogo. Hal itu penting dilakukan untuk mempermudah proses tanam dan panen. Dipertahankan Ponorogo bekerja sama dengan beberapa kelompok tani untuk mengimplementasikan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan), seperti traktor modern, transplanter, dan combine harvester.
“Teknologi ini sangat menekan biaya operasional,” ungkap Budi.
Untuk mengatasi tantangan irigasi di musim kemarau, Pemkab Ponorogo pun membuat program bantuan sumur dalam. Sejak tahun 2021 lalu, total sudah ada 191 sumur dalam yang dibangun di wilayah Ponorogo. Selain program sumur dalam, Pemkab Ponorogo juga sudah melakukan kerjasama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN), lewat jaringan listrik masuk sawah. Dengan pompa air yang menggunakan tenaga listrik ini, selain memudahkan petani, juga bisa menekan biaya produksi pertanian.
‘’Program sumur dalam dan jaringan listrik masuk sawah ini, memastikan petani tercukupi pengairan sawahnya. Dan sekali lagi ini sangat menekan biaya operasional, dari pada dulu pakai tenaga diesel, saat ini pompa air listrik lebih terjangkau,’’ tutup Budi.
Untuk diketahui, berdasarkan data dari BPS, luas panen padi Kabupaten Ponorogo pada 2023 mencapai sekitar 66,59 ribu hektare. Jumlah tersebut, mengalami peningkatan sebanyak 3,63 ribu hektare atau 5,77 persen dibandingkan luas panen padi di tahun 2022 yang sebesar 62,96 ribu hektare. Produksi padi pada 2023 yaitu sebesar 392,99 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG), mengalami peningkatan sebanyak 33,58 ribu ton atau 9,34 persen dibandingkan produksi padi di tahun 2022 yang sebesar 359,41 ribu ton GKG. [end/beq]






