Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) mengukuhkan dua guru besar di At-Tauhid Tower pada Kamis (30/4/2026). Keduanya yakni Prof. Mundakir dan Prof. Lina Listiana.
Mundakir merupakan Rektor Umsura periode 2024-2028. Ia dikukuhkan sebagai profesor di bidang Ilmu Keperawatan. Sementara Lina dikukuhkan menjadi profesor bidang Pembelajaran Metakognitif.
Ketua Senat Unsura, Prof. Sukadiono menyampaikan optimismenya terhadap peningkatan jumlah guru besar di lingkungan Kampus Sejuta Inovasi ini dalam beberapa tahun ke depan.
“Setiap tahun kita ada guru besar yang mendapat SK dari Menteri Pendidikan Tinggi Saintek. Capaian ini jangan berhenti sampai di sini. Kita ingin dosen-dosen mengejar jabatan fungsional akademiknya,” ujarnya.
Menurutnya, Umsura saat ini memiliki cukup banyak dosen dengan jabatan lektor kepala yang berpotensi naik menjadi guru besar.
“Kita berharap ke depan lektor-lektor kepala di Universitas Muhammadiyah Surabaya bisa segera melakukan akselerasi naik jabatan menjadi guru besar,” tuturnya.
Sementara itu, dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Bridging Psychosocial Gaps in Nursing: Knowledge Translation untuk Indonesia di Era Disrupsi,” Mundakir membahas masalah psikososial.
Menurutnya masalah psikososial tidak selalu berkaitan dengan gangguan jiwa berat, melainkan tekanan mental yang dialami masyarakat sehari-hari, seperti stres, depresi, merasa kesepian, hingga mudah marah.
“Psikososial itu adalah tekanan jiwa yang dialami masyarakat. Bentuknya bisa depresi, stres, merasa sendiri, mudah marah dan lain-lain. Masalah itu sebenarnya banyak di masyarakat, namun tidak terdeteksi atau tidak dianggap serius,” ujarnya.
Sedangkan Lina, dalam paparannya menyampaikan bahwa pendidikan saat ini tak lagi cukup hanya dengan fokus pada transfer pengetahuan.
Perubahan paradigma menuntut peserta didik memiliki kompetensi abad 21, seperti berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.
Meski begutu, realitas pendidikan nasional masih menghadapi berbagai problematika, mulai dari pendekatan pembelajaran yang masih berpusat pada guru hingga rendahnya kemampuan reflektif peserta didik.
“Di sinilah urgensi metakognitif menjadi sangat penting. Peserta didik tidak hanya belajar ‘apa’, tetapi juga ‘bagaimana mereka belajar’,” tegasnya.
Dengan dikukuhkannya dua guru besar baru, ini menjadi tonggak bagi Umsura yang tengah memantapkan diri menjadi Kampus Para Juara dengan visi Moral Integrity, Intellectual Excellence, Global Competitiveness. [ipl/suf]






