Bondowoso (beritajatim.com) – Kabupaten Bondowoso tidak hanya dikenal sebagai kota tape. Tetapi kini potensial menjadi kota tanaman hidroponik.
Ketua Asosiasi Petani Hidroponik (Astanik) Kabupaten Bondowoso, Yudha Gusti Randa menjelaskan, saat ini sudah ada puluhan petani yang tergabung dalam komunitas ber-SK Bupati tersebut.
“Ada 25 anggota. Tersebar di beberapa kecamatan,” kata Yudha kepada beritajatim.com, Jumat (27/9/2024).
Sebaran anggota mulai dari kecamatan Bondowoso, Tenggarang, Wonosari, Maesan, Curahdami, Tegalampel, Tamanan, Jambesari Darusholah, Grujugan dan Sukosari.
“Total keseluruhan sudah ada 60 ribu lubang se Bondowoso dengan kapasitas produksi antara 2-3 ton per panen,” sebut pria 32 tahun tersebut.
Yudha menyebut, setiap panen Astanik bisa menghasilkan omzet antara Rp 40 juta sampai Rp 60 juta.
“Sedangkan rata-rata periodisasi panen per pekan atau per minggu,” ucap warga Desa Sumberkalong, Kecamatan Wonosari ini.
Hasil panen dari anggota biasanya dijual melalui asosiasi atau juga bisa langsung dijual ke konsumen.
“Harga jualnya yang dipatok antara Rp 22 ribu – Rp 23 ribu per kilogam. Kelebihan tanaman hidroponik kami lebih bersih, segar dan tidak cepat layu,” ucapnya.
Sejauh ini, pemasaran selada dari Astanik Bondowoso merambah kebutuhan restoran dan hotel se Bondowoso, Jember, Banyuwangi dan Situbondo.
“Periode tanam sampai panen butuh waktu 45 hari, tapi kami tidak panen serentak. Bergantian setiap pekan. Jadi stok terus ada,” ulasnya.
Untuk berbisnis sayuran hidroponik, kata Yudha, ternyata cukup mudah dan bisa dibantu oleh asosiasi.
“Paling kecil itu satu modul ukuran 3×4 meter. Itu terdiri dari 8 pipa. Panjang 4 meter dengan lebar 1,5 meter dan sisa 1,5 meter untuk akses jalan,” urainya.
Satu pipa bisa dibuatkan 20 lubang. Jadi satu modul ukuran 3×4 bisa memiliki 160 lubang dengan kapasitas produksi per pipa 2 kilogram.
“Berarti 8 pipa bisa menghasilkan 16 kilogram. Kalau intens bisa 20 kilogram untuk tanaman selada,” sebut Yudha.
Untuk proyeksi pembuatan hidroponik awal di kisaran Rp 6 juta. Biaya itu sudah mendapatkan pipa, tandon air, nutrisi, bibit, atap UV, mesin dan peralatan lain.
“Untuk 1 modul estimasi listrik Rp 50 ribu untuk 3 kali panen (4,5 bulan),” beber Yudha.
Dengan pangsa pasar yang masih sangat luas, Yudha meyakini bisnis tanaman hidroponik akan semakin besar di Bondowoso.
“Bertani dengan cara modern ini sangat simple dan tidak membutuhkan lahan seluas pola konvensional. Bondowoso sangat potensial jadi Kota Hidroponik di masa depan,” yakinnya. (awi/ted)






