Surabaya (beritajatim.com) – Klinik kecantikan dan kesehatan kulit Epiderm secara resmi menggelar acara grand opening pada sore hari ini, Sabtu (18 Juli 20206), setelah sebelumnya sukses melewati masa soft opening selama satu bulan. Kehadiran klinik ini diharapkan dapat menjadi solusi baru bagi masyarakat Surabaya, khususnya dalam menangani permasalahan kulit dan kelamin.
Brigjen Pol (Purn) Hoiruddin Hasibuan selaku ayah mengungkapkan, pendirian klinik Epiderm ini merupakan perwujudan dari cita-cita lama anaknya yakni, dr. Putri Mulia Bela Grania Hasibuan, yang telah dipersiapkan melalui proses dan persiapan yang cukup lama.
“Syukur alhamdulillah pada sore hari ini kita sudah melaksanakan grand opening klinik Epiderm ini. Sebenarnya memang ini sudah cukup lama dan dari dulu Putri punya cita-cita untuk mendirikan klinik ini. Sehingga prosesnya sudah cukup lama, kemudian persiapannya juga sudah. Alhamdulillah sudah berdiri,” ujar Hoiruddin Hasibuan dalam sesi wawancara.
Melihat ketatnya persaingan klinik kecantikan di Surabaya, Hoiruddin Hasibuan menilai bahwa meski klinik di Surabaya sudah cukup banyak, ia berharap kehadiran Epiderm dapat bersaing secara sehat dan mendapatkan tempat di hati masyarakat.
“Agar ke depannya klinik Epiderm ini dapat maju dan memberikan manfaat yang luas bagi Masyarakat, khususnya di Kota Surabaya,” imbuh Ayah dr Putri.
Sementara itu, dr. Putri Mulia Bela Grania Hasibuan mengatakan, di tengah maraknya klinik kecantikan yang sudah cukup banyak berdiri di Kota Surabaya, Epiderm menawarkan keunggulan tersendiri. Ia menyebut pembeda dari klinik-klinik lainnya yakni ditonjolkan adalah konsep one stop solution.
“Berbeda dengan klinik kecantikan pada umumnya yang hanya berfokus pada estetika, Epiderm juga memberikan perhatian khusus pada kesehatan area intim (kelamin), sejalan dengan keahlian saya sebagai seorang dokter spesialis dermatologi venerology,” ungkap dr Putri.
Menurut dr. Putri, kasus atau penyakit yang berkaitan dengan area kelamin sebenarnya sangat besar di masyarakat. Namun, banyak pasien yang memiliki permasalahan tersebut, karena merasa malu untuk berobat, setelah adanya stigma sosial.
“Stigma itu yang pengin saya ubah supaya pasiennya itu merasakan aman, terus didengarkan, terus begitu mereka ke sini tuh benar-benar mereka ngerasa dimengerti,” jelas dr. Putri.
Meskipun baru saja diresmikan, Epiderm rupanya telah mendapatkan animo yang sangat baik dari masyarakat selama satu bulan masa soft opening. dr. Putri mengungkapkan bahwa kasus-kasus yang berhubungan dengan area kelamin ternyata cukup banyak ditemukan di Surabaya.
“Berdasarkan pengakuan para pasien saat ditanya mengenai asal informasi klinik, mereka mengetahui keberadaan klinik Epiderm ini melalui beberapa jalur. Di antaranya adalah informasi dari mulut ke mulut (teman ke teman), media sosial resmi Epiderm, serta rekomendasi dari tokoh yang mereka percayai,” lanjut dia.
Melalui kehadiran klinik ini, pihak keluarga dan pengelola berharap agar ke depannya masyarakat Surabaya bisa menjadi lebih tertarik dan lebih peduli terhadap kesehatan kulit serta kelamin mereka. (har)






