Yohanes Kandaimu tak percaya menatap bola tendangan Terens Puhiri meluncur deras ke dalam gawang Persebaya setelah terkena kakinya pada menit 45+2. Hanya beberapa saat sebelum wasit meniup peluit akhir babak pertama.
Bek tengah asal Papua itu membuat 12.021 penonton yang menyaksikan pertandingan Persebaya melawan Borneo, di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Minggu (3/9/2023), frustrasi. Kandaimu menatap nanar, dan pemain Borneo Stefano Lilipaly sempat menepuk bahunya untuk membesarkan hati.
Persebaya sempat unggul lebih dulu melalui kaki Bruno Moreira pada menit 22. Kandaimu menyamakan kedudukan. Persebaya akhirnya menutup pertandingan dengan skor 2-1, setelah Ze Valente mencetak gol pada menit 72.
Uston Nawawi menutup pertandingan terakhirnya sebagai pelatih sementara Persebaya di Pekan 11 Liga 1 Musim 2023-24 dengan kemenangan. Dalam lima pertandingan, ia meraih empat kemenangan dan sekali hasil imbang. Rekornya dalam lima pertandingan awal Liga 1 sebagai debutan pelatih Persebaya lebih baik daripada Aji Santoso, Djajang Nurjaman, dan Alfredo Vera,
Arief Catur Pamungkas menjadi pemain terbaik setelah menyumbangkan dua assist. Assist-nya untuk Valente mengingatkan assist yang biasa dilakukan Trent-Alexander Arnold di Liverpool. Assist itu dinobatkan sebagai Assist Of The Week.
Namun catatan bagus Uston dan Catur ditenggelamkan pembicaraan tentang Kandaimu. Sebuah akun media sosial menghujat pemain berusia 28 tahun itu dan menyamakannya dengan kera.
Publik terkejut. Penampilan Kandaimu memang jauh dari memuaskan. Namun menyamakannya dengan hewan adalah penghinaan yang tak seharusnya keluar dari seseorang yang mengaku pendukung Persebaya. Bahkan tak seharusnya terpikir dalam kepala seorang manusia.
Kandaimu memang mengecewakan. Gol bunuh dirinya di ujung babak pertama cukup untuk menggambarkan bagaimana performanya. Namun dia seorang pejuang. Di tengah keterbatasan teknis dan rasa lelah menghadapi pelari-pelari cepat Borneo, ia menunjukkan mentalitas yang patut mendapat aplaus. Mentalitas pantang menyerah. Orang Inggris bilang: never say die, never give up.
Kandaimu bukan satu-satunya korban rasisme. Pemain Persipura pernah mengamuk karena menjadi sasaran rasisme Aremania saat berhadapan dengan Arema di Stadion Kanjuruhan, Rabu (9/12/2009). Dikutip dari antaranews.com, Asisten Pelatih Persipura Anton Imbenai memprotes tindakan Aremania itu.
“Selama ini kami menganggap Aremania merupakan suporter terbaik di negeri ini, namun ternyata keliru. Tidak sepantasnya mereka meneriakkan kata-kata yang menyinggung perasaan kami,” kata Anton.
Rasisme terulang pada pertandingan Arema melawan Persipura di Kanjuruhan Minggu (12/5/2013). Nabire.net melaporkan ada teriakan provokasi yang menyebutkan satu nama hewan yang ditujukan kepada pemain dan ofisial Persipura.
Rasisme adalah problem serius dalam dunia sepak bola. Tak hanya di Indonesia, tapi juga terutama di sejumlah negara Eropa. Di Inggris, isu ini tergolong kuat sehingga tak hanya federasi yang bergerak, namun juga klub dan pemain. Sejumlah gerakan dilakukan seperti Show Racism The Red Card (SRTRC) yang dipelopori pemain sepak bola sendiri.
Stewart McGill dan Vincent Raison dalam buku The Roaring Red Front: The World’s Top Left-Wing Football Clubs menyebut ada kesadaran di kalangan pemain sepak bola Inggris, bahwa mereka bisa menjadi pembeda untuk menantang rasisme di masyarakat, terutama untuk kalangan muda.
“Once they know you’ve been a footballer, you’ve got the room. You let them know they are in a safe place to ask questions. They get to define racism, talk about stereotypes, unconscious bias, and get to challenge their own way of thinking,” kata Danny Mills, pemain sepak bola Dulwich Hamlet, London.
Pendisplinan terhadap fans dilakukan melalui penegakan hukum, seperti yang dilakukan pengadilan di Liverpool pada 2012, yang menjatuhkan hukuman larangan menyaksikan sepak bola di stadion selama empat tahun kepada Phillip Gannon, karena menirukan gerakan monyet yang ditujukan kepada pemain Manchester United Patrice Evra.
Semua klub Liga Primer Inggris pada 2020 sepakat menjatuhkan sanksi berat kepada fans yang bersikap rasis, menyusul laporan meningkatnya kejahatan rasial hingga 47 persen. Manajemen klub Bournemouth melarang seorang remaja berusia 17 tahun masuk ke Stadion Molineux seumur hidup karena menyanyikan chant rasis kepada pemain Tottenham Hotspur.
Kalangan sepak bola di Indonesia masih belum melihat isu rasisme sebagai sesuatu yang serius dibandingkan isu-isu lain seperti kerusuhan suporter, tidak kompetennya perangkat pertandingan, hingga isu internal pengelolaan kompetisi yang tidak ideal. Tak banyak yang ingat bahwa sejarah sepak bola Indonesia diwarnai isu rasisme struktural.
Pemain keturunan Tionghoa adalah korban rasisme terstruktur pertama oleh negara sejak masa pemerintah kolonial Belanda. Sebelum kemerdekaan, sederet pemain keturunan Tionghoa memperkuat tim nasional Hindia Belanda dalam Piala Dunia 1938. Sebut saja Bing Moheng, Tan Hong Djien, dan Tan See Han.
Persebaya era 1950-an diperkuat seorang keturunan Tionghoa asal Kabupaten Jember bernama Tee San Liong, Liem Heat Soen, Thiam Gwan, dan Tjoe Bien. Dari sebelas pemain Persebaya yang bermain dalam final Perserikatan 1959, ada lima pemain bernama Tionghoa. Nama-nama keturunan Tionghoa juga bisa ditemui dalam skuat Persib Bandung, PSIS Semarang, dan Persija Jakarta.
Banyaknya nama pemain keturunan Tionghoa dalam klub-klub tanah air, termasuk di Persebaya, tak lepas dari kehadiran klub sepak bola yang didirikan mereka. Rojil Nugroho Bayu Aji dalam artikel ‘Tionghoa dalam Sepak Bola Indonesia‘ mencatat nama sejumlah klub sepak bola seperti Suryanaga di Surabaya, Union di Semarang, UMS Batavia, dan YMC di Bandung.
Rojil mengatakan, kehadiran klub-klub sepak bola itu tak lepas dari kebijakan pembagian kelas yang memang berbasis rasisme oleh pemerintah Hindia Belanda. Bahkan mereka mendirikan Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB) untuk menandingi NIVB bikinan Belanda.
Setelah sempat menikmati kebebasan di lapangan hijau pada masa rezim Soekarno, populasi pemain sepak bola keturunan Tionghoa merosot drastis saat Soeharto berkuasa. Rojil menyebut rasisme menyebabkan lenyapnya pemain sepak bola keturunan Tionghoa berbakat di Indonesia. “Seringkali pemain sepak bola Tionghoa diteriaki China oleh suporter. Hal itu mengakibatkan keengganan bagi mereka menggeluti sepak bola,” tulisnya.
Faktor kedua, perbedaan antara pribumi dan non pribumi yang bergeser menjadi sentimen ras saat terjadi kerusuhan di lapangan hijau. “Ketiga, pandangan pragmatis orang Tionghoa yang menganggap sepak bola tidak bisa dijadikan sandaran hidup,” demikian Rojil menyimpulkan.
Pemain berkulit hitam dari Papua dan Indonesia timur sebenarnya lebih beruntung daripada pemain-pemain keturunan Tionghoa. Publik sepak bola Indonesia sejak dulu relatif lebih ramah dan cenderung mengagumi bakat-bakat alam pemain asal Papua. Mereka mengindetikkan bakat pemain-pemain asal Papua dan Indonesia timur dengan bakat pemain Afrika dan bahkan Amerika Latin.
Julukan Mutiara Hitam untuk Persipura adalah sejenis kekaguman yang nyaris menjadi kultus. Puja-puji untuk pemain asal Papua menjadi klise di bibir para pengamat dan komentator sepak bola di televisi. Terlepas dari fakta bahwa saat ini tak ada klub asal Papua yang berada di Liga 1 dan jumlah pemain Papua yang masuk ke tim nasional tak sebanya era 1990-an.
Sejarah sepak bola Surabaya juga ditulis oleh pemain-pemain asal Indonesia timur, termasuk Papua. Jacob Sihasale, pemain legendaris Persebaya era 1970-an, berasal dari Ambon. Namanya selalu disebut-sebut saat orang bernostalgia tentang pertandingan Persebaya melawan Ajax Amsterdam di Gelora 10 Nopember pada 11 Juni 1975.
Deretan nama pemain Indonesia timur yang berkulit lebih gelap dibandingkan pemain etnis lainnya terhitung panjang dalam skuat Persebaya di sepanjang zaman. Apalagi salah satu klub peserta kompetisi internal di Surabaya adalah Villa Royal yang diperkuat pemain-pemain asal Indonesia timur. Di bawah kepemimpinan Pieter Sahelangi, nama klub ini diubah menjadi Villa Royal Anak Bangsa.
Bung Karno dalam buku autobiografinya yang ditulis wartawati Cindy Adams pernah menyebut Surabaya adalah dapur nasionalisme. Dan di lapangan hijau, dapur itu mengepulkan asap keberagaman. Itulah mengapa rasisme tidak akan pernah berumah di Surabaya. Tidak ada kera di Persebaya. [wir]






