Enam puluh empat tahun berlalu sejak Maracanazo terjadi pada 1950, Brasil kembali menjadi tuan rumah Piala Dunia. Namun Selecao belum berhasil memutus rantai kutukan dan gagal di depan publik sendiri pada Piala Dunia 2014. Bahkan dengan lebih tragis.
Sejak fase pemyisihan, tim tuan tumah sudah diunggulkan. Bergabung dengan Meksiko, Kroasia, dan Kamerun di Grup A, Brasil ke babak gugur dengan status juara grup. Kroasia dihajar 3-1, Kamerun disikat 4-1. Hanya Meksiko yang sukses menahan mereka tanpa gol.
Sementara itu Jerman juga tak terkalahkan di Grup G. Anak asuhan Joachim Low berhasil menundukkan Portugal 4-0 dan Amerika Serikat 1-0. Mereka tertinggal dari Ghana sebelum Miroslav Klose menyamakan kedudukan menjadi 2-2 pada menit 71.
Di Babak 16 Besar, Brasil berhadapan dengan Chile di Belo Horizonte. Gol pemain bertahan Brasil David Luiz dan penyerang Chile Alexis Sanchez membuat pertandingan berakhir imbang hingga waktu normal. Mauricio Pinilla hampir membawa Cile menang, tetapi tendangannya membentur mistar gawang.
Dalam adu penalti, penjaga gawang Julio Cesar tampil gemilang dengan menggagalkan dua tendangan yang mengirimkan Brasil ke babak perempat final.
Pertandiingan ketat juga dirasakan Jerman saat menghadapi Aljazair. Pertandingan diperpanjang dua kali 15 menit, setelah kedua tim bermain imbang tanpa gol selama waktu normal. Gol Andre Schürrle dan Mesut Özil membawa kemenangan 2-1 bagi Jerman. Satu-satunya gol balasan Aljazair dicetak Abdelmoumene Djabou.
Dalam babak perempat final, Brasil umggul melalui Thiago Silva dan David Luiz yang diperkecil oleh Kolombia melalui James Rodriguez lewat titik putih. Namun kemenangan itu harus dibayar mahal. Selain Thiago Silva terkena akumulasi kartu sehingga absen di semifinal, Neymar mengalami cedera tulang belakang akibat benturan lutut dengan Juan Zuniga.
Cedera tersebut mengakhiri perjalanan Neymar di Piala Dunia sekaligus membuat jantung pendukung Brasil berdebar keras. Pasalnya lawan yang akan dihadapi di semfinal adalah Jerman yang berhasil mengalahkan Prancis melalui gol tunggal Mats Hummels melalui sundulan pada menit 13.
Sementara bagi Kolombia, momentum Piala Dunia melahirkan bintang baru James Rodriguez. Gelandang AS Monaco itu menciptakan tiga assist, dan meraih tiga penghargaan Man of The Match. Enam gol yang dicetaknya diganjar dengan Sepatu Emas.
Salah satu golnya ke gawang Uruguay di Babak 16 Besar memenangi FIFA Puskas Award. Gol tersebut lahir melalui kontrol dada yang sempurna sebelum James melepaskan tendangan voli keras dari luar kotak penalti.
Stadion Mineirão, Belo Horizonte, 8 Juli 2014, menjadi panggung bagi Jerman dan Brasil. Semua memperkirakan pertandingan bakal berjalan ketat. Namun yang dibayangkan jauh dari apa yang terjadi di lapangan. Mineirão menjadi saksi hancurnya tim nasional Brasil.
Betapa tidak, Jerman tampil ganas dan mencetak lima gol hanya dalam waktu sekitar setengah jam. Setelah jeda, Jerman menambah dua gol lagi sebelum Oscar mencetak gol hiburan bagi Brasil.
Kekalahan 1-7 menjadi kekalahan terbesar Brasil dalam sejarah di kandang sendiri dan kekalahan pertama mereka dalam pertandingan kompetitif di kandang sejak 1975. Pada laga itu pula Miroslav Klose mencetak gol ke-16 di putaran final Piala Dunia, melampaui rekor Ronaldo sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen.
Kemenangan telak Jerman ini menjadi puncak dari sejumlah kejutan dalam Piala Dunia 2014. Diawali kekalahan telak Spanyol 1-5 dari Belanda pada laga pembuka. Kendati sempat unggul melalui penalti Xabi Alonso, Spanyol tak berdaya menghadapi sepak bola menyerang pelatih Louis van Gaal.
Robin van Persie mencetak gol indah melalui sundulan spektakuler setelah menerima umpan Daley Blind. Dan Spanyol akhirmya tersingkir bersama Australia,
Kejutan terbesar terjadi di Grup D. Kosta Rika yang diperkirakan jadi juru kunci, justru tampil sebagai juara grup dengan mengalahkan Uruguay 3-1, membabat Italia 1-0, dan menahan Inggris 0-0.
Inggris yang lolos kualifikasi tanpa terkalahkan tak berdaya di hadapan Italia dan kalah 1-2. Lima hari kemudian mereka kembali tumbang 1-2 dari Uruguay. Luis Suarez, yang baru pulih dari operasi lutut, mencetak gol pembuka. Wayne Rooney sempat menyamakan kedudukan. Namun Suarez kembali mencetak gol penentu kemenangan.
Uruguay akhirnya lolos ke fase gugur mendampingi Kosta Rika setelah mengalahkan Italia 1-0 berkat ol Diego Godin pada pertandingan terakhir. Kemenangan ini diwaenai insiden Suarez yang menggigit bahu Giorgio Chiellini.
Wasit tidak melihat aksi Suarez sehingga tak mengelurkan kartu. Namun dalam tayangan ulang terlihat jelas aksi tersebut. Ini kali ketiga Suarez menggigit lawannya sepanjang kariernya, Komite Disiplin FIFA pun menjatuhkan hukuman larangan bermain dalam sembilan pertandingan internasional, hukuman terpanjang dalam sejarah Piala Dunia.
Langkah Kosta Rika gagal ditahan Yunani pada Babak 16 Besar. Setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit, mereka menang 5-3 lewat drama adu penalti.
Keajaiban Kosta Rika terhenti di perempat final saat menghadapi Belanda yang sebelumnya pada Babak 16 Besar mengalahkan Meksiko 2-1.
Sebenarnya Kosta Rika bisa mengimbangi permainan Belanda. Penjaga gawang Keylor Navas tampil gemilang menggagalkan sejumlah peluang pemain Belanda.
Menjelang adu penalti, Van Gaal mengganti kiper Jasper Cillessen dengan Tim Krul yang dinilai memiliki peluang lebih besar dalam urusan menggagalkan tendangan penalti. Keputusan itu terbukti tepat. Belanda mencetak seluruh penaltinya, sedangkan Krul menggagalkan dua tendangan lawan.
Namun petir tidak menyambar dua kali di tempat yang sama. Van Gaal tidak bisa mengulangi siasat mengganti Jasper Cillessen dengan Krul jelang adu penalti, karena kehabisan kuota pergantian pemain. Setelah bermain imbang 0-0 sepanjang 120 menit melawan Argentina di semifinal, Belanda tunduk 2-4 melalui adu penalti.
Pertandingan final menyajikan laga klasik Jerman melawan Argentina, sebagaimana Piala Dunia 1986 dan 1990. Tidak banyak peluang tercipta. Gonzalo Higuain menyia-nyiakan kesempatan terbaik Argentina pada babak pertama. Sementara sundulan Benedikt Howedes membentur tiang gawang. Lionel Messi yang digadang-gadang menjadi pengganti Maradona juga gagal memberikan pengaruh besar bagi timnya.
Untuk ketiga kalinya secara beruntun, final Piala Dunia harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu. Pada menit ke-113, Mario Gotze mengontrol umpan Andre Schurrle dengan dada sebelum melepaskan tendangan voli yang menaklukkan kiper Sergio Romero.
Gol tersebut memastikan kemenangan Jerman 1-0 sekaligus menghadirkan gelar juara dunia keempat bagi mereka. Jerman juga menjadi tim Eropa pertama yang berhasil menjuarai Piala Dunia di benua Amerika.
Keberhasilan Jerman ini merupakan hasil proses panjang yang dimulai setelah kegagalan mereka pada Kejuaraan Eropa 2000 dan 2004. Mereka melakukan pembenahan besar dalam pengembangan pemain muda dengan dukungan klub-klub Bundesliga.
Sebaliknya, Brasil dinilai gagal beradaptasi. Ketergantungan besar kepada Neymar terlihat jelas, ketika sang penyerang cedera. Kekalahan telak dari Jerman itu memperlihatkan kelemahan teknis maupun mental mereka.
Secara keseluruhan, Piala Dunia 2014 menghasilkan 171 gol, menyamai rekor tertinggi dalam sejarah turnamen. Banyaknya gol dipengaruhi kesalahan penjaga gawang, lemahnya pertahanan saat bola mati, serta terciptanya banyak gol cepat yang mengubah jalannya pertandingan.
Bola Brazuca juga ikut andil terhadap banyaknya gol yang tercipta, karena dinilai lebih mudah dikendalikan dibanding bola Jabulani pada Piala Dunia 2010. Ini membuat pemain lebih percaya diri untuk melepaskan tembakan.
Oryza A. Wirawan,
Jurnalis Senior beritajatim.com, Pegiat Bonek Writer Forum.






