Ketika Piala Dunia berlangsung, dunia seperti berhenti sejenak dari rutinitasnya. Orang-orang yang sehari-hari berbeda kelas sosial, agama, pilihan politik, bahkan kebangsaan, tiba-tiba larut dalam emosi yang sama. Mereka mengecat wajah, mengibarkan bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, dan menyebut dirinya dengan satu kata sederhana: Kita.
Di kafe, ruang keluarga, warung kopi, hingga media sosial, percakapan berubah. Orang yang biasanya tidak pernah saling menyapa mendadak bisa berdiskusi tentang peluang Norwegia, kekuatan Argentina, atau gebrakan Ekuador menumbangkan raksasa Eropa, Jerman.
Di momen-momen seperti itu, saya sering bertanya: mengapa rasa kebersamaan justru terasa lebih hidup di stadion sepak bola dibanding di partai politik?
Padahal sepak bola dan politik sesungguhnya bermain di wilayah yang hampir identik: massa, loyalitas, identitas, dan emosi kolektif. Keduanya membutuhkan pengikut. Keduanya hidup dari simbol. Keduanya berusaha membangun keyakinan bahwa seseorang adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Namun ada satu perbedaan mendasar. Sepak bola bisa jadi masih “berhasil” membuat orang merasakan keterhubungan itu. Sementara (partai) politik, dalam banyak kasus, tampak semakin kesulitan melakukannya.
Kita memulai dengan melihat bagaimana klub-klub besar sepak bola membangun ikatan tersebut.
Liverpool F.C. tidak hanya menghadirkan pertandingan. Melalui You’ll Never Walk Alone, mereka merawat rasa persaudaraan. Para pendukungnya merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga besar yang tetap berdiri bersama, baik dalam kemenangan maupun kekalahan.
FC Barcelona melangkah lebih jauh. Barca tidak hanya menjadi klub sepak bola, namun juga simbol identitas Catalonia. Bahasa, budaya, dan sejarah politik menemukan rumah simboliknya di Camp Nou. Karena itu, banyak warga Catalonia merasa menjadi bagian dari Barcelona bahkan sebelum mereka memahami sepak bola.
Manchester United (MU) menawarkan cerita berbeda. Klub ini tumbuh dari kawasan industri Inggris Utara dan berkembang di tengah komunitas kelas pekerja yang selama puluhan tahun juga menjadi basis tradisional Partai Buruh Inggris (Labour Party). Menariknya, ketika loyalitas terhadap partai-partai politik mulai melemah di banyak wilayah Inggris, loyalitas terhadap MU justru bertahan lintas generasi.
Dari ketiga contoh itu terlihat satu hal penting: orang tidak sekadar mendukung klub. Mereka menemukan alasan untuk merasa menjadi bagian dari sebuah kita.
Klub sepak bola memelihara apa yang dalam kehidupan sosial disebut sebagai “rasa rumah”. Ia merawat memori keluarga, identitas kota, dan kenangan yang diwariskan lintas generasi. Banyak orang menjadi pendukung Liverpool, Barca, atau MU bukan karena perhitungan rasional, umumnya karena tumbuh bersama cerita-cerita tentang klub tersebut.
Jika klub memelihara rasa rumah, maka tim nasional merawat lapisan identitas yang lebih besar: rasa bertanah air.
Brasil, misalnya, dicintai karena dunia melihat mereka bermain dengan kebebasan dan kegembiraan. Sejak Pelé, Brasil menanamkan keyakinan bahwa sepak bola bukan hanya soal menang, tetapi juga tentang menghadirkan keindahan. Bagi banyak orang, Brasil tidak sekadar memainkan sepak bola; mereka merayakan pertandingan.
Jerman menghadirkan citra nasional berbeda. Dunia mengenal mereka melalui disiplin, organisasi, dan ketangguhan. Di lapangan hijau, meski akhirnya kalah, Jerman sering dibaca sebagai cerminan bangsa yang percaya pada kerja keras, keteraturan, dan efisiensi.
Argentina hidup dari emosi. Dari Maradona hingga Messi, mereka membawa kisah tentang harga diri nasional, luka sejarah, dan kerinduan untuk diakui. Banyak orang mencintai Argentina bukan semata karena permainannya, melainkan karena mereka melihat perjuangan, gairah, dan kemanusiaan yang terasa begitu dekat.
Sementara itu, Maroko pada Piala Dunia 2022 menjelma menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sebuah tim nasional. Mereka menjadi simbol dunia Arab, Afrika, diaspora Muslim, dan Global South. Ketika Maroko melaju hingga semifinal, jutaan orang yang bahkan bukan warga Maroko ikut bersorak. Mereka tidak sedang mendukung sebuah negara semata, melainkan mendukung representasi, pengakuan, dan harapan bahwa mereka yang selama ini berada di “pinggiran” juga dapat berdiri di pusat panggung dunia.
Mungkin karena itulah sebuah tim nasional selalu membawa sesuatu yang lebih besar daripada sekadar hasil pertandingan. Ia membawa cerita tentang siapa sebuah bangsa, bagaimana bangsa itu ingin dikenang, dan nilai-nilai apa yang ingin ditunjukkannya kepada dunia.
Di sinilah sepak bola menjadi salah satu ruang paling subur bagi manusia untuk “memproduksi makna” tentang dirinya sendiri. Piala Dunia adalah bentuknya yang paling megah.
Selama sebulan, miliaran orang tidak sekadar menyaksikan pertandingan. Mereka sedang memperbarui ingatan kolektifnya. Orang Argentina kembali mengingat Maradona. Orang Brasil kembali merayakan joga bonito. Orang Jerman kembali menemukan citra disiplin dan ketangguhan yang melekat pada bangsanya. Orang Maroko kembali merasakan kebanggaan sebagai bagian dari dunia Arab dan Afrika.
Barangkali karena itulah Piala Dunia tidak pernah benar-benar hanya tentang sepak bola. Ia adalah “perayaan” identitas, memori, dan rasa memiliki. Sebuah ruang di mana manusia modern, yang sering tercerai-berai oleh pekerjaan, geografis, dan kesibukan sehari-hari, sesekali kembali menemukan kata kita.
Yang menarik, sejatinya politik pernah memiliki kemampuan yang sama. Yang sering kita lupa, partai politik, dahulu, bukan sekadar mesin pemilu.
Ia adalah “rumah sosial” sekaligus “rumah ideologis”. Orang masuk partai bukan hanya untuk memilih atau dipilih, namun karena merasa menjadi bagian dari sebuah perjuangan bersama.
Sejarah politik dunia sebenarnya penuh dengan contoh semacam itu. Di Inggris, Partai Buruh pernah menjadi rumah politik kelas pekerja. Di Jerman, SPD tumbuh bersama serikat pekerja, koperasi, dan pendidikan rakyat. Di Afrika Selatan, ANC menjelma menjadi simbol harapan dalam perjuangan melawan apartheid.
Bahkan di India, Partai Kongres pernah menjadi wadah yang menyatukan keragaman bahasa, agama, dan etnis ke dalam satu proyek kebangsaan. Pada masa-masa itu, partai tidak hanya mengorganisasi suara.
Partai merawat identitas.
Dengan kata lain, partai-partai itu pernah melakukan apa yang hingga kini masih dilakukan oleh klub sepak bola dan tim nasional. Partai pernah membangun kebersamaan, menjaga memori kolektif, dan membuat orang merasa menjadi bagian dari sebuah kita yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Namun sebagaimana jarum jam terus berputar, politik modern perlahan menjadi semakin teknokratis sekaligus transaksional. Partai lebih sibuk membaca survei daripada mendengar keresahan masyarakat. Partai lebih “khusyuk” mengelola citra daripada membangun kedekatan nyata. Akibatnya, hubungan antara partai dan masyarakat terasa semakin berjarak.
Orang mungkin tetap mencoblos partai. Tetapi mereka tidak selalu merasa memilikinya lagi.
Barangkali di situlah letak persoalannya, pilihan politik masih ada, tetapi rasa memiliki perlahan memudar.
Gejala ini tidak sulit ditemukan di tanah air. Seorang Bobotoh mungkin tetap merasa dekat dengan Persib ke mana pun ia merantau. Seorang Bonek tetap membawa identitas Persebaya meski telah bertahun-tahun meninggalkan Surabaya. Seorang Jakmania tetap merasa terhubung dengan Persija. Bahkan bisa jadi orang Indonesia akan menjadi “sangat Indonesia” ketika Timnas berlaga.
Tetapi berapa banyak orang yang memiliki keterikatan emosional serupa dengan sebuah partai politik?
Jika klub memelihara rasa rumah dan tim nasional merawat rasa bertanah air, maka partai politik hari ini tampak semakin kesulitan menjalankan kedua fungsi itu sekaligus. Mereka memang masih mampu mengorganisasi dukungan, tetapi tidak selalu berhasil membangun keterikatan yang membuat orang merasa menjadi bagian darinya.
Mungkin karena itulah seorang pendukung Liverpool tetap solid ketika klubnya kalah. Seorang culé tetap merasa terhubung dengan Barcelona meski presidennya berganti. Seorang pendukung MU bertahan ketika klubnya mengalami masa-masa sulit. Bahkan warga Argentina maupun Belanda dapat menangis tersedu-sedu ketika tim nasionalnya tersingkir dari turnamen.
Bahasa yang digunakan pun hampir selalu sama.
“Kita menang.”
“Kita kalah.”
“Kita akan kembali.”
Menariknya, kata kita itu diucapkan dengan sangat alami, meski mereka mungkin tidak pernah mengenakan seragam tim atau menginjak rumput lapangan. Di situlah sebuah we-feeling bekerja, perasaan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Antonio Gramsci, dalam Prison Notebooks (1929–1935), menjelaskan bahwa pengaruh yang bertahan bukan hanya dibangun melalui kekuasaan formal, juga melalui budaya, simbol, dan kesadaran sehari-hari. Ia menyebutnya cultural hegemony.
Ironisnya, hari ini klub dan tim sepak bola sering kali lebih berhasil membangun hal itu dibanding banyak partai politik.
Di stadion, seorang buruh bisa duduk berdampingan dengan artis, professor, tuan tanah, dan pengemudi ojol. Orang kaya bisa memeluk orang miskin setelah gol di menit akhir. Mereka mungkin berbeda agama, suku, bahkan pilihan politik, tetapi tetap bersorak untuk warna yang sama.
Di sana ada solidaritas spontan yang terasa tulus.
Ketika Piala Dunia berlangsung seperti hari-hari ini, kita kembali diingatkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan program, kebijakan, atau slogan. Manusia membutuhkan tempat untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu.
Di ujungnya, mungkin manusia tidak hanya mencari pemimpin, orasi, apalagi retorika. Mereka mencari tempat untuk merasa terhubung. Mereka mencari cerita yang memberi arah serta simbol yang membuat hidup terasa bermakna bersama orang lain. Ia mencari tempat untuk “pulang”. Sering kali, tempat itu sejatinya adalah perasaan sederhana bahwa dirinya masih menjadi bagian dari sebuah kita.
Stadion bola mampu menghadirkan perasaan itu
Mungkin karena itulah di stadion masih sanggup membuat seseorang menyebut dirinya “kita” meski paling tidak dalam sembilan puluh menit. Sementara tidak sedikit partai politik semakin sulit membuat masyarakat mengucapkan kata yang sama.
Barangkali, di situlah sepak bola memberi “pelajaran” berharga yang dapat dipetik oleh politik (kita) hari ini.
[Agus Trihartono, Dosen Hubungan Internasional Universitas Jember, Rektor UI Cordoba Banyuwangi]






