Malang (beritajatim.com) – STIE Malangkuçecwara (ABM Malang) melalui seminar bertajuk “5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, & Shitsuke) dan Budaya Kerja di Jepang” menghadirkan pakar industri, Stefanie Djunian Djaja. Agenda ini dirancang untuk menyiapkan lulusan yang kompeten di kancah mancanegara pada Kamis (30/4/2026) di Gedung H Ruang Seminar STIE Malangkuçecwara.
Stefanie Djunian Djaja saat ini menjadi Perwakilan IFECE Indonesia sekaligus trainer resmi dari Toyota Jepang sejak 2015. Agenda ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara STIE Malangkuçecwara, IFECE Indonesia, dan ISP MCE.

Dalam paparannya, Stefanie menekankan bahwa prinsip 5S (Seiri/Ringkas, Seiton/Rapi, Seiso/Resik, Seiketsu/Rawat, dan Shitsuke/Rajin) serta filosofi Kaizen atau perbaikan terus-menerus, bukanlah alat yang hanya berlaku di dunia manufaktur atau pabrik.
”Tujuan saya membagi ilmu ini adalah agar mahasiswa menyadari bahwa 5S dan Kaizen berlaku untuk kehidupan sehari-hari. Ini adalah akar pendidikan karakter yang membentuk SDM berkualitas,” ujar Stefanie di hadapan mahasiswa.
Ia menjelaskan bahwa kunci utama perbedaan budaya kerja di Jepang dan Indonesia terletak pada komitmen terhadap waktu. Menurutnya, kondisi alam Jepang yang ekstrem dengan empat musim memaksa masyarakatnya untuk disiplin dan patuh pada jadwal agar bisa bertahan hidup. Hal ini sangat kontras dengan budaya Indonesia yang cenderung santai karena kekayaan sumber daya alamnya.
”Anak-anak Indonesia punya potensi luar biasa. Melalui program magang intensif, mereka tidak hanya belajar hardware atau konversi nilai mata kuliah, tetapi juga soft skill seperti disiplin waktu dan tidak menggampangkan masalah,” tambahnya.
Selain pemaparan materi, seminar ini juga mengupas peluang strategis bagi mahasiswa non-sastra, khususnya program studi Akuntansi dan Manajemen, untuk merambah industri di Jepang. Stefanie yang merupakan lulusan S2 Jepang dan S3 UCLA ini mengungkapkan bahwa dirinya telah berkolaborasi dengan imigrasi Jepang untuk mempermudah konversi nilai mata kuliah.
”Ekonomi dan Akuntansi sangat bisa beradaptasi di industri Jepang. Mahasiswa bisa belajar manajemen melalui pola 4M (Monitor, Measure, Manage, Maintain) serta akuntansi praktis dari proses bahan baku hingga pengiriman (delivery),” jelasnya. Kerja sama ini sendiri telah dirintis bersama STIE Malangkuçecwara sejak tahun 2020, sesaat sebelum pandemi COVID-19.
Kepala Malangkucecwara International Relationship (MIR), Ir. Dwi Nita Aryani, M.M., Ph.D, CRA., menegaskan bahwa program internship atau magang ke Jepang merupakan ruang krusial bagi mahasiswa. Melalui seminar ini, STIE Malangkuçecwara berharap mahasiswa semakin termotivasi untuk mengambil peluang magang di bidang perhotelan (ryokan) maupun sektor industri yang kini mulai terbuka lebar di Jepang.
”Kami memberikan ruang luas bagi mahasiswa untuk memperhatikan materi budaya kerja ini. Magang bukan hanya soal bekerja, tapi soal menyerap budaya profesional yang akan menjadi bekal mereka saat lulus nanti,” kata Dwi Nita dalam penjelasannya. (dan/but)






