Malang (beritajatim.com) – Pakar akuntansi sekaligus Wakil Ketua III Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkuçeçwara (ABM) Malang, Dr. Drs. Kadarusman, MM, Ak., CA., AFA., memberikan tips untuk anak muda yang ingin terjun ke pasar saham. Mengingat minat generasi muda untuk terjun ke dunia investasi cukup besar, ia menilai perlu dibarengi dengan pemahaman literasi keuangan yang mumpuni agar tidak terjebak dalam kerugian.
Dalam wawancara di sela acara Seminar Terbuka Literasi Keuangan di Malang, Senin (27/4/2026), Kadarusman mengingatkan para investor pemula agar selalu waspada terhadap tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan fantastis namun diklaim tanpa risiko.
”Ada ceritanya investasi itu tidak berisiko? Kalau ada tawaran investasi yang memberikan hasil besar dan tidak berisiko, itu patut dicurigai. Kita harus punya pemahaman dan pengalaman untuk meminimalkan risiko tersebut,” ujar Kadarusman.
Menurutnya, kunci utama dalam berinvestasi adalah belajar menganalisa instrumen yang tepat agar imbal hasil (cuan) bisa maksimal dengan risiko yang terkendali. Ia menyarankan anak muda untuk tidak sekadar ikut-ikutan tren, melainkan mulai melirik instrumen yang memiliki rekam jejak jelas.
Sebagai langkah awal yang aman, Kadarusman merekomendasikan pemilihan saham kategori blue chip. Saham-saham ini berasal dari perusahaan dengan fundamental kuat dan kinerja yang sudah terbukti di pasar modal.
”Cari saham yang memang sudah jelas keunggulannya dan kinerjanya aman. Imbalannya harus berada di atas risk-free rate (suku bunga bebas risiko). Anak muda jangan gampang tergoda dengan prinsip high risk high return tanpa memahami bahwa risiko itu nyata adanya,” tambahnya.
Ia juga menyoroti aspek psikologis investor yang sering kali terjebak pada sifat tamak (greedy). Menurutnya, banyak investor pemula hanya fokus mengharapkan return tinggi tanpa memikirkan potensi kehilangan modal. Padahal, kesadaran akan adanya potensi kerugian (loss) justru akan membuat investor lebih disiplin dalam mengambil keputusan.
Selain faktor fundamental perusahaan, Kadarusman menjelaskan bahwa pemahaman terhadap situasi sosial politik dan kondisi global sangatlah penting. Ia mencontohkan bagaimana konflik geopolitik, seperti ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, dapat memberikan dampak langsung pada industri di dalam negeri.
Dalam konteks analisis fundamental, terdapat analisis panggung yang mencakup situasi makro baik domestik maupun internasional. Kadarusman menyebutkan bahwa fluktuasi nilai tukar Rupiah akibat kondisi global bisa menjadi pedang bermata dua.
”Situasi global memengaruhi industri secara keseluruhan. Industri yang banyak melakukan ekspor mungkin mendapatkan manfaat besar. Namun, industri yang bahan bakunya impor akan terpukul jika Rupiah melemah. Biaya produksi (cost of production) menjadi mahal, sementara daya beli masyarakat sedang turun,” jelasnya.
Menutup pernyataannya, ia menegaskan bahwa menjadi investor yang cerdas memerlukan komitmen untuk terus belajar secara berkelanjutan. “Harus pilih-pilih dan harus belajar. Tidak bisa tidak, literasi adalah kunci agar kita selamat dalam menikmati hasil investasi,” pungkasnya. (dan/aje)






