Ringkasan Berita:
- Unusa meresmikan Sekolah Manajemen dan Kesehatan Berkelanjutan (SMKB) serta membuka Program Magister Manajemen.
- Program baru mengusung fokus manajemen berkelanjutan sebagai respons terhadap tantangan global.
- Kurikulum disusun bersama AMMI dan akademisi University of Pennsylvania.
- Lulusan diproyeksikan menjadi pemimpin yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) resmi meresmikan Sekolah Manajemen dan Kesehatan Berkelanjutan (SMKB) sekaligus membuka Program Magister Manajemen (MM) dengan fokus pada manajemen berkelanjutan, Jumat (26/6/2026). Langkah ini menjadi bagian dari transformasi akademik Unusa dalam menjawab tantangan global melalui penguatan pendidikan tinggi berbasis keberlanjutan.
Peluncuran sekolah dan program studi baru tersebut memadukan keunggulan Unusa di bidang kesehatan dengan pengembangan ilmu manajemen modern yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, mengatakan pembentukan SMKB dilatarbelakangi berbagai persoalan global yang kini dihadapi dunia, mulai dari perubahan iklim hingga tantangan baru di sektor kesehatan.
“Peradaban dunia sedang menghadapi perubahan iklim, krisis lingkungan, ketimpangan sosial, hingga tantangan baru di sektor kesehatan,” ujar Tri Yogi.
Menurutnya, Program Magister Manajemen di Unusa dibangun di atas dua fondasi utama, yakni penguasaan ilmu manajemen secara komprehensif serta kemampuan analisis data yang didukung penerapan tata kelola lingkungan yang baik.
“Lulusan MM Unusa akan mampu merancang strategi bisnis yang menguntungkan secara ekonomi, peduli pada pelestarian alam, serta memberi dampak sosial nyata,” jelasnya.
Sementara itu, Dekan Sekolah Manajemen dan Kesehatan Berkelanjutan, Dr. Handayani, menyampaikan bahwa pihaknya telah mempersiapkan program tersebut melalui serangkaian lokakarya penyusunan kurikulum bersama para pakar dari dalam maupun luar negeri.
“Melalui SMKB kami ingin membangun ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan pemimpin masa depan,” kata Handayani.
Ia menjelaskan, penyusunan kurikulum dilakukan secara adaptif dengan melibatkan Asosiasi Magister Manajemen Indonesia (AMMI) serta akademisi dari University of Pennsylvania. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja dan tantangan global.
“Pemimpin masa depan ini harus memiliki wawasan luas, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan serta pelestarian lingkungan sekitar,” tambah Handayani. [ipl/beq]






