Malang (beritajatim.com) – Kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan, polusi industri, dan minimnya ruang terbuka hijau menjadi persoalan serius di berbagai daerah, termasuk Kota Tangerang Selatan.
Menjawab tantangan ini, Widya Poean Maharani, lulusan terbaik Program Studi Arsitektur S-1 ITN Malang, mencetuskan solusi arsitektur berkelanjutan yang mensinergikan fungsi wisata, konservasi alam, dan edukasi lingkungan.
Melalui karya tugas akhirnya yang berjudul ‘Recreation Dome In The City: Hotel Resort And Nature Conservation Park’, Widya merancang taman konservasi alam yang dipadukan dengan hotel resort. Hal itu sebagai upaya memulihkan kualitas lingkungan sekaligus mendorong pariwisata ramah lingkungan di kawasan urban.
“Konsep ini hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan perkotaan. Hotel resort dan taman konservasi saya rancang bukan hanya untuk rekreasi, tapi juga untuk menjaga ekosistem melalui perawatan dan pelestarian flora serta fauna,” ujar Widya, Sabtu (12/4/2025).
Perancangan ini tak hanya bertujuan memperluas ruang hijau kota, tetapi juga membantu mereduksi polusi udara melalui proses reboisasi dan penanaman berbagai jenis pohon. Udara bersih dan peningkatan kualitas oksigen menjadi efek langsung dari konsep yang ia usung.
Mengusung prinsip arsitektur biofilik, Widya memanfaatkan pencahayaan alami, ventilasi silang, elemen tanaman dalam ruang, hingga kehadiran air di taman sebagai bagian dari pendekatan yang menyatu dengan alam. Semua elemen ini dirancang untuk menciptakan suasana tenang, sehat, dan nyaman bagi pengunjung di tengah hiruk pikuk kota.
Tak hanya itu, kawasan ini juga akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti ruang workshop, area edukasi lingkungan, tempat pembibitan pohon, restoran terbuka, kolam renang, taman bermain, serta zona bird and butterfly watching.
Rancangannya juga dilandasi metode Concept-Based Framework oleh Philip D. Plowright, yang menekankan pendekatan lintas disiplin untuk menciptakan karya arsitektur yang terstruktur dan berdampak.

Widya berharap, gagasannya bisa menjadi inspirasi pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan keseimbangan antara fungsi manusia dan kelestarian alam. “Semoga rancangan ini dapat menjadi ikon hijau baru di Tangerang Selatan dan mendukung terciptanya kota yang lebih sehat,” imbuhnya.
Peraih IPK 3,38 ini merupakan penerima beasiswa KIP Kuliah asal Serang, Banten. Anak dari pasangan Eka Marlika dan Dewi Nurhayati ini menuturkan bahwa perjalanan kuliahnya penuh tantangan, namun juga membentuknya menjadi pribadi kreatif dan mandiri.
“Awalnya saya tertarik dengan desain interior, tapi ayah menyarankan sekalian ambil arsitektur supaya ilmunya lebih luas. Di ITN Malang saya belajar bukan hanya menggambar, tapi juga berpikir visioner dan menciptakan solusi nyata,” tuturnya.
Selama kuliah, Widya juga aktif berwirausaha kuliner kecil-kecilan bersama teman, bahkan sempat menjadi freelancer desain interior toilet umum. Bagi Widya, perjalanan pendidikannya bukan hanya tentang gelar, tapi juga tentang memberikan kontribusi nyata untuk lingkungan dan masyarakat. [dan/suf]






