Blitar (beritajatim.com) – Bendungan Lahor di Kabupaten Malang akan ditutup untuk akses kendaraan roda empat mulai 1 Agustus mendatang. Meski bukan merupakan akses jalan umum, sebanyak 6.700 kendaraan tercatat melintas di puncak Bendungan Lahor setiap hari sebagai jalur cepat dari Blitar menuju Malang.
Berdasarkan data yang ada, sekitar 2.800 mobil melintas di Bendungan Lahor setiap harinya. Artinya, dengan ditutupnya akses tersebut mulai Agustus mendatang, ribuan kendaraan itu akan kembali melintasi Jalan Nasional Blitar-Malang yang memiliki banyak tikungan tajam.
Kondisi ini dinilai cukup berbahaya, mengingat penutupan berlangsung bersamaan dengan musim giling tebu. Potensi kecelakaan hingga kemacetan pun menjadi ancaman yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar mulai melakukan langkah antisipasi. Salah satunya dengan menyiapkan personel untuk memantau kondisi lalu lintas di Jalan Nasional Blitar-Malang.
“Rencananya akan kita siapkan dua personel yang akan memantau kondisi jalur pasca Bendungan Lahor ditutup,” ungkap Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kabupaten Blitar, Anjar Eko Atmanto, Kamis (23/7/2026).
Selain menyiapkan personel di lapangan, Pemkab Blitar juga mulai menyurvei jalur alternatif yang bisa digunakan ketika Jalan Nasional Blitar-Malang mengalami kemacetan. Jalur tersebut juga dapat dimanfaatkan kendaraan roda empat apabila terjadi kepadatan lalu lintas.
“Jadi ada jalur alternatif yakni dari Simpang Tiga Kesamben ke selatan, kemudian ke timur menuju Ngadri, lurus terus kemudian akan tembus ke Kalipare,” bebernya.
Jalur alternatif tersebut memiliki panjang sekitar 16 kilometer. Waktu tempuhnya pun hanya berselisih sekitar 10 menit dibandingkan melalui Jalur Nasional Blitar-Malang. (owi/kun)






