Judul Buku: Among The Thugs
Penulis: Bill Buford
Penerbit: Arrow Books
Edisi: Paperback
Tebal: 336 halaman
Agenda Penerbitan: Mei 2018
Bahasa: Inggris
Pernah menyaksikan film Green Street Hooligans? Film ini berkisah tentang seorang jurnalis kampus Amerika Serikat bernama Matt Buckner yang datang ke Inggris dan bergabung dengan sekelompok hooligans pendukung klub West Ham United bernama Green Street.
Buckner menulis catatan harian soal aktivitasnya bersama Pete Dunham, pemimpin Green Street yang juga saudara iparnya. Belakangan catatan harian itu nyaris membuatnya dihajar, karena bukan rahasia lagi kalau jurnalis adalah profesi yang paling dibenci hooligans (selain polisi tentunya).
Buku Among The Thugs ini adalah pengalaman Buckner versi dunia nyata yang ditulis jurnalis AS bernama Bill Buford. Reputasi Bufford sebagai jurnalis cukup masyhur. Dia menjadi penilis dan editor majalah bergengsi New Yorker sejak 1995. Sebelumnya, dia juga menjabat editor Majalah Granta selama 16 tahun, dan pada 1989 menjadi penerbit Granta Books.
Semua berawal saat Bufford pulang dari Wales dengan naik kereta api. Dia datang lebih awal dan membeli secangkir the di sebuah sabtu petang yang dingin. Hanya ada empat penumpang saat itu menunggu di peron. Lalu kemudian terdengar pengumuman: ada kereta api di luar jadwal akan memasuki stasiun. Semua calon penumpang diharap mundur sepuluh kaki dari peron.
Sejumlah polisi muncul berjaga-jaga, saat sebuah kereta khusus yang ditumpangi ratusan orang suporter Liverpool tiba. Seorang penjaga yang terluka terburu-buru keluar dari gerbong kereta. Sementara seseorang di dalam kereta api berusaha memecahkan kaca gerbong dengan kaki meja.
Enam orang polisi mengepung seorang pria gendut berwajah merah, memiting dan membantingnya ke lantai. Bufford ketakutan. Dia belum pernah nonton pertandingan sepak bola Inggris di stadion. Sebagaimana orang Amerika Serikat lainnya, dia tidak menganggap serius sepak bola yang disebut ‘soccer’ di negerinya.
Pengalaman di stasiun membawa Bufford mendatangi beberapa stadion sepak bola, dan mulai menjelajahi kemungkinan-kemungkinan untuk bertemu sederetan ‘bajingan’ (thugs) yang kemudian ditulisnya dengan gaya naratif.
Bufford bertemu orang-orang dengan sapaan ganjil: Bonehead, Paraffin Petem dan Steamin’ Sammy. Mereka mencintai Inggris dan membenci negara lainnya. Dia mengikuti perjalanan Red Army, pasukan hooligans Manchester United, dan menenggak alkohol bersama komunitas skinhead yang punya citra seram.
Dalam buku ini tersaji jawaban atas pertanyaan tentang alas faktor penyebab sekelompok individu yang cerdas, hangat, dan waras bisa berubah menjadi segerombolan pelaku kekerasan. “crowd violence was their drug.” Kekerasan adalah candu.
Melalui buku ini, Bufford membangun ketegangan sekaligus kelucuan tingkah laku para hooligans itu. Dia berhasol memasuki sebuah masyarakat alternatif dan merekam kebiadaban sekaligus daya tariknya yang menyeramkan dengan memberikan konteks sosialnya.[wir].






