Tak ada bangsa yang begitu identik dengan sepak bola selain Brasil. Selama lebih dari seabad, rakyat, politisi, dan penyair Brasil telah menemukan ekspresi terbaik dari potensi kolektif bangsa ini dalam sepak bola. Sejak penampilan gemilang tim pada Piala Dunia 1938 di Prancis, sepak bola Brasil telah dipuja sebagai perpaduan dunia lain: antara efektivitas dan estetika.
KUMPULAN BERITA sinopsis buku
Buku ini ditulis untuk menentang pandangan khalayak ramai bahwa politik seharusnya berjarak dengan sepak bola. Di mata Usall, dan ditunjukkan di buku ini, sepak bola selalu menjadi fenomena politik. Suka atau tidak.
Namun, seperti judul buku ini, More Than Maradona: The Birth, Death and Rebirth of SSC Napoli, Napoli bukan hanya Maradona. Sejarah Napoli begitu kompleks, kaya, yang tak hanya tentang kesetiaan dan gairah, tapi juga skandal dan korupsi.
Ketakutan terbesar manusia adalah dilupakan. Mungkin karena itulah kita selalu merayakan hari kelahiran. menyalakan lilin, dan berdoa di setiap masa pergantian umur.
Reputasi Bufford sebagai jurnalis cukup masyhur. Dia menjadi penilis dan editor majalah bergengsi New Yorker sejak 1995. Sebelumnya, dia juga menjabat editor Majalah Granta selama 16 tahun, dan pada 1989 menjadi penerbit Granta Books.
Buku ini adalah penyeimbang bagi buku autobiografi Alex Ferguson yang terbit pada 1999. Sebagai seorang jurnalis, Michael Crick memotret Ferguson secara independen, tak hanya dari satu aspek positif, namun juga kontroversi negatifnya.
Saat sepak bola Jerman disoroti dunia karena sejumlah capaian, Bayern Munchen berada di garda terdepan. Saat tim nasional Jerman menjadi juara dunia, Bayern tiga kali menembus Liga Champions selama enam tahun terakhir, meraih gelar juara kelima, dan merevolusi cara mereka bermain.
Siapakah Paolo Sollier? Alih-alih dikenal karena kepiawaiannya menggocek bola di lapangan hijau, Sollier lebih dikenal sebagai pemain sepak bola Italia pemeluk Marxisme yang teguh pada era 1970-an. Terbit pada 1976, Kicks, Spits, & Headers: The Autobiographical Reflections of an Accidental Footballer mendokumentasikan dua tahun yang dijalaninya sebagai pesepakbola yang tidak sengaja.
Tidak ada yang mengira Blackpool Football Club justru bakal menuju jurang kehancuran setelah mengamankan tiket ke Liga Premier, melalui kemenangan final play-off yang mendebarkan, pada Mei 2010.
Namanya Ivan Ambrosio. Dia lahir pada 1993 dan dibesarkan di Gragnano, sebuah kota kecil di Italia. Saat berusia 19 tahun, dia memilih pindah ke London Inggris dan memutuskan tidak kembali ke negerinya dalam waktu dekat. Orang Inggris bilang: one way ticket. Tiket sekali jalan. Orang Indonesia bilang: kabur aja dulu.









