Ringkasan Berita
Sebanyak 40 semi-finalis (20 Panji dan 20 Galuh) tampil habis-habisan dalam Tes Minat Bakat Pemilihan Duta Wisata Panji Galuh Kota Kediri 2026 di Atrium Kediri Town Square, Sabtu (18/7/2026).
Para semifinalis bertarung ketat setelah sebelumnya berhasil lolos dari screening awal yang menyisihkan sekitar 70 pendaftar di Balaikota Kediri.
Acara yang diinisiasi oleh Disbudparpora Kota Kediri kolaborasi bersama IKAPALU ini dirancang untuk menyaring 10 pasang finalis terbaik.
Kepala Disbudparpora, Bambang Priambodo, mengapresiasi daya juang dan komitmen tinggi para peserta sebagai calon motor penggerak pariwisata daerah.
Kediri (beritajatim.com) – Panggung Atrium Kediri Town Square menjadi saksi bisu riuhnya energi dan kreativitas generasi muda. Pada Sabtu (18/7/2026), sebanyak 40 semi-finalis Pemilihan Duta Wisata Panji Galuh Kota Kediri 2026 berkumpul untuk membuktikan kelayakan mereka dalam tahapan krusial: Tes Minat Bakat.
Komposisi peserta yang terdiri dari 20 Panji dan 20 Galuh ini menyajikan performa terbaik mereka di depan publik. Langkah mereka sampai di panggung semifinal ini tidaklah mudah, mengingat mereka harus melewati fase kurasi ketat di Balaikota Kediri yang menjaring puluhan pendaftar sejak awal pembukaan.
Ajang yang digawangi oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri bersama Ikatan Panji Galuh (IKAPALU) ini menjadi pembuktian nyata atas persiapan panjang para peserta.
Karakter Kuat Calon Motor Penggerak Pariwisata
Apresiasi tinggi datang dari jajaran birokrasi daerah. Kepala Disbudparpora Kota Kediri, Bambang Priambodo, menyoroti bahwa kompetisi ini tidak sekadar mencari figur yang rupawan atau berbakat secara permukaan, melainkan menguji kedalaman komitmen dan karakter para calon duta daerah.
“Kita tidak hanya melihat bakat, tetapi juga komitmen dan keseriusan yang luar biasa dari para peserta. Kegigihan mereka dalam mempersiapkan diri mencerminkan karakter kuat generasi muda yang siap memikul tanggung jawab besar sebagai motor penggerak pariwisata Kota Kediri,” tegas Bambang di sela-sela acara.
Pihak panitia menilai, keseriusan yang ditunjukkan di atas panggung merupakan modal awal yang sangat baik. Mengingat tantangan pariwisata digital dan promosi kebudayaan ke depan memerlukan agen-agen muda yang dinamis serta adaptif.
Ramuan Tiga Disiplin Seni dan Fokus Penuh Peserta
Ketatnya persaingan memicu para kontestan untuk mengeluarkan formula penampilan yang tidak biasa. Atmosfer kompetisi yang kompetitif namun sehat begitu terasa di belakang maupun di depan panggung.
Krisnorik, salah satu semifinalis Panji, mengaku memusatkan seluruh fokus dan energinya demi memberikan impresi terbaik kepada dewan juri.
“Saya tidak ingin setengah-setengah. Harapannya tentu lolos, karena motivasi terbesar saya adalah bisa berkontribusi nyata untuk pariwisata Kediri. Perjalanan sampai di titik ini butuh fokus penuh,” ungkapnya optimis.
Strategi eksperimental yang tak kalah memukau ditunjukkan oleh semifinalis Galuh, Rima. Demi mengamankan poin tertinggi dan mencuri perhatian juri, ia nekat menantang kapasitas dirinya dengan mengolaborasikan tiga cabang kesenian sekaligus dalam satu seni pertunjukan utuh.
“Persaingan sangat ketat, jadi persiapannya pun harus ekstra maksimal. Saya mencurahkan segalanya untuk menyiapkan penampilan khusus yang menggabungkan unsur wayang, tari, dan teater,” tutur Rima penuh semangat.
Menyaring 10 Pasang Terbaik Menuju Grand Final
Fase Tes Minat Bakat ini menjadi batu ujian terakhir sebelum juri mengerucutkan jumlah peserta. Dari 40 semifinalis yang tampil, hanya akan dipilih 10 pasang finalis terbaik (10 Panji dan 10 Galuh) yang dinilai memiliki kematangan mental, bakat, dan visi terbaik.
Peserta yang berhasil lolos ke babak Grand Final dipastikan langsung masuk ke fase karantina. Di sana, mereka akan digembleng dengan berbagai pembekalan intensif, mulai dari wawasan kebudayaan, kepariwisataan, public speaking, hingga koreografi, sebelum akhirnya melangkah ke malam penobatan puncak Panji & Galuh Kota Kediri 2026. [nm/aje]






