Buku berjudul Indonesia Digagalkan Ikut Olimpiade London 1948 yang ditulis Ossa Kurniawan Ilham dan diterbitkan Kompas Penerbit Buku pada 2025 ini menunjukkan bagaimana Belanda dan Inggris menghambat upaya Indonesia untuk berpartisipasi.
KUMPULAN BERITA buku sepakbola
Reputasi Bufford sebagai jurnalis cukup masyhur. Dia menjadi penilis dan editor majalah bergengsi New Yorker sejak 1995. Sebelumnya, dia juga menjabat editor Majalah Granta selama 16 tahun, dan pada 1989 menjadi penerbit Granta Books.
Buku ini adalah penyeimbang bagi buku autobiografi Alex Ferguson yang terbit pada 1999. Sebagai seorang jurnalis, Michael Crick memotret Ferguson secara independen, tak hanya dari satu aspek positif, namun juga kontroversi negatifnya.
Saat sepak bola Jerman disoroti dunia karena sejumlah capaian, Bayern Munchen berada di garda terdepan. Saat tim nasional Jerman menjadi juara dunia, Bayern tiga kali menembus Liga Champions selama enam tahun terakhir, meraih gelar juara kelima, dan merevolusi cara mereka bermain.
Siapakah Paolo Sollier? Alih-alih dikenal karena kepiawaiannya menggocek bola di lapangan hijau, Sollier lebih dikenal sebagai pemain sepak bola Italia pemeluk Marxisme yang teguh pada era 1970-an. Terbit pada 1976, Kicks, Spits, & Headers: The Autobiographical Reflections of an Accidental Footballer mendokumentasikan dua tahun yang dijalaninya sebagai pesepakbola yang tidak sengaja.
Tidak ada yang mengira Blackpool Football Club justru bakal menuju jurang kehancuran setelah mengamankan tiket ke Liga Premier, melalui kemenangan final play-off yang mendebarkan, pada Mei 2010.
Namanya Ivan Ambrosio. Dia lahir pada 1993 dan dibesarkan di Gragnano, sebuah kota kecil di Italia. Saat berusia 19 tahun, dia memilih pindah ke London Inggris dan memutuskan tidak kembali ke negerinya dalam waktu dekat. Orang Inggris bilang: one way ticket. Tiket sekali jalan. Orang Indonesia bilang: kabur aja dulu.
Alex Bysouth, jurnalis BBC Sport sejak 2016, melakukan perjalanan ke sejumlah kota di Eropa mulai dari Bilbao di Spanyol ke Berlin di Jerman, Paris, Napoli, Amsterdam, dan sejumlah kota lain.
Argentina adalah produsen maestro sepak bola sepanjang masa, mulai dari Alfredo Di Stefano, Diego Maradona, Gabriel Batistua, Juan Roman Riquelme, hingga Lionel Messi. Mereka tumbuh dari sejarah sepak bola yang kaya dan terbentuk oleh perpaduan keluhuran filosofi dan pragmatisme yang kejam.
Dari irisan antara jalanan dan olahraga, kita menemukan tema-tema terkini tentang ketegangan rasial, etnis, dan kelas yang digambarkan dalam budaya visual grafiti oleh Ultras, kelompok pendukung klub sepak bola yang dikenal militan dan dekat dengan isu politik.









