Sumenep (beritajatim.com) – Sejumlah warga yang tengah berada di TPS tiba-tiba berlari mencari tempat berteduh saat hujan turun dengan deras. Sementara petugas KPPS di TPS terlihat sibuk mengamankan logistik Pemilu ke tempat yang aman. Hal itu menjadi salah satu adegan dalam simulasi pemungutan dan penghitungan suara serta penggunakan Sirekap dalam Pemilu 2024 yang digelar KPU Sumenep pada Rabu (27/12/2023).
Ketua KPU Sumenep, Rahbini mengatakan, simulasi tersebut dilakukan secara lengkap mulai pagi saat TPS dibuka untuk waktu pencoblosan, hingga batas akhir pemilih menggunakan hak suaranya di TPS.
“Bahkan dalam simulasi itu juga sampai pada tahapan penghitungan suara dan penggunaan ‘Sirekap’ untuk menghitung hasil suara di TPS. Jadi bisa sampai malam simulasi ini,” katanya.
Menurut Rahbini, simulasi tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman utuh tentang hari H pelaksanaan Pemilu. Dalam simulasi itu, yang berperan sebagai KPPS adalah anggota PPK. Sedangkan calon pemilih yang dilibatkan dalam simulasi tersebut 200 orang.
“Di satu TPS, rata-rata jumlah pemilih 250 – 300 orang. Untuk simulasi ini, kami melibatkan 200 orang yang berperan sebagai calon pemilih sesuai DPT di sebuah TPS. Termasuk adanya pemilih penyandang disabilitas yang harus didampingi, juga kami simulasikan,” ujarnya.
Ia memaparkan, simulasi tersebut dilakukan agar KPPS punya kemampuan menguasai masalah yang mungkin terjadi di TPS saat hari H pemungutan suara. Misalnya tiba-tiba turun hujan saat pemungutan suara masih berlangsung, dan TPS berada di tempat terbuka.
“Tantangan eksternal bagi KPPS diantaranya memang kondisi geografis dan cuaca. Ini tadi kebetulan benar-benar hujan saat simulasi berlangsung. Jadi bisa langsung dipraktekkan, upaya yang harus dilakukan KPPS untuk mengamankan logistik Pemilu,” terang Rahbini.
Selain itu, dalam simulasi tersebut juga digambarkan adanya provokator di TPS yang sengaja membuat gaduh, sehingga harus diamankan aparat kepolisian.
“Kami ingin memberikan gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan masalah yang muncul di TPS, sehingga KPPS paham bagaimana penyelesaian masalahnya,” papar Rahbini. (Tem/Aje)






