Malang (beritajatim.com) – Topik seputar big data sering kali menjadi sorotan di kalangan masyarakat Indonesia. Pasalnya, kemajuan teknologi yang mendasar pada kecerdasan buatan (AI) diyakini dapat menyederhanakan aktivitas manusia.
Seperti yang kita ketahui, analisis big data dapat dengan cepat merangkum informasi, profil netizen, serta memantau hasil analisis yang berakar dari media sosial. Bahkan, big data mampu belajar dari sejarah perilaku dan peristiwa masa lalu guna merumuskan strategi masa depan.
Keunggulan teknologi ini memikat perhatian Fajar Adi Pratama untuk merambah dunia big data. Perjalanan kisahnya dimulai usai menyelesaikan studi dan bergabung dalam sebuah perusahaan furnitur sebagai R&D Staff (Design Engineer).
“Fajar menceritakan, “Saat saya bekerja, saya juga menjalani pekerjaan lepas sebagai riset internet dan tertarik dengan big data.”
Tengah tahun 2018, ia mengambil keputusan besar untuk berhenti dan mengikuti beasiswa pelatihan dari Kominfo bekerja sama dengan Microsoft yang membahas Analisis Big Data.
“Ini berlangsung selama sekitar satu hingga dua bulan di ITS. Setelahnya, saya tidak langsung terjun sebagai praktisi di bidang data, namun tetap fokus pada riset internet sebagai pekerja lepas,” kata pria berusia 28 tahun ini.
Pada tahun 2020, munculnya pandemi Covid-19 memacu Fajar untuk mencari penghasilan stabil. Akhirnya, ia bergabung dengan perusahaan swasta di Surabaya sebagai Staff Ilmu Data.
“Tahun 2021, saya beralih ke startup perdagangan sosial sebagai Analis Bisnis Intelijen dan terakhir, di awal 2022 hingga saat ini, saya bekerja di salah satu startup “Unicorn” – Tech Aquaculture sebagai Analis Pemasaran Produk Senior,” ungkap pria kelahiran tahun 1994 ini.
Tak hanya bekerja penuh waktu, Fajar juga aktif sebagai pekerja lepas di bidang Intelijen Bisnis dan Analisis Data dengan klien dari beberapa negara. Tentu saja, hal ini tak mudah.
“Mungkin fakta menarik di sini adalah ilmu yang saya pelajari saat kuliah sangat berbeda dengan profesi saya saat ini. Dulu saya belajar Teknik Perkapalan di ITS dan sekarang saya lebih banyak berurusan dengan analisis data,” ujarnya.
Baca Juga: Adian Napitupulu Bicara Big Data, Penundaan Pemilu, dan Minyak Goreng Langka
Salah satu tantangan besar yang dihadapi Fajar adalah kewajiban belajar setiap hari, mengingat perkakas dan pengetahuan berkembang dengan pesat seiring berjalannya waktu.
“Disamping itu, kebutuhan data bagi pihak terkait relatif besar, sehingga kemampuan dan manajemen kerja harus terorganisir dengan baik menggunakan berbagai alat,” tambahnya.
Sebagai seorang pekerja lepas, Fajar merasakan tantangan lebih besar karena setiap konteks dan industri pekerjaan berbeda, sehingga analisis data harus disesuaikan dengan bisnis yang mempertimbangkan demografi dan geolokasi tertentu.
“Walaupun begitu, saya sangat menikmatinya karena saya terus belajar hal baru setiap saat sambil mendapatkan penghasilan tambahan. Saya bersyukur bisa dekat dengan keluarga dan mengalokasikan waktu berkualitas dengan baik,” ucap pria asal Sidoarjo ini.
Dengan kemampuannya yang telah terbentuk, Fajar telah meraih beberapa klien yang tersebar di beberapa negara.
“Saat ini, saya sedang aktif mengerjakan proyek terkait analisis data, bisnis intelijen, dan e-commerce untuk klien di Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Malaysia. Sebelumnya, saya juga pernah bekerja sama dengan beberapa klien, bahkan beberapa di antaranya merupakan pelanggan berulang,” kata Fajar.
Rencananya, Fajar berambisi untuk mendirikan perusahaan atau agensi dalam bidang data dan analisis.
“Saat ini saya memiliki klien dari berbagai negara dan pernah melayani klien di seluruh benua. Permintaan pekerjaan masih sangat tinggi, sehingga saya harus menolak beberapa permintaan klien,” lanjutnya.
“Karena permintaan yang signifikan ini, saya bermaksud untuk membentuk tim dan agensi yang mampu menangani kebutuhan beberapa klien tersebut. Tentu saja, tantangan dalam hal ini cukup besar. Semoga ini menjadi kenyataan dan dapat membantu lebih banyak bakat di Indonesia,” tutup Fajar. (ted)
[berita-terkait number=”3″ tag=”showup”]
================
Konten Kerjasama beritajatim.com dengan Ngalup Collaborative Network
Ngalup Coworking Space yang saat ini bertransformasi menjadi Ngalup Collaborative Network, adalah wadah bagi para talent, stakeholders, dan berbagai lini bisnis untuk kolaborasi dan berjejaring. Kami menyadari kebutuhan akan perubahan dan tantangan zaman yang semakin berkembang, menjadikan Ngalup tidak hanya sebagai tempat melainkan fasilitator.






