Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Tim Kajian Banjir Surabaya Waterfront Land (SWL), Satria Damar Negara menegaskan proyek reklamasi SWL senilai Rp 72 Triliun ini tidak akan meningkatkan potensi banjir di Surabaya, asalkan kondisi hilir saluran air tidak terganggu.
“Kami telah melakukan simulasi dengan model yang mengakomodasi Surabaya Masterplan. Hasilnya, reklamasi tidak akan menambah potensi banjir, dengan catatan kondisi hilir salurannya tidak terganggu,” ujar Satria.
Dosen Teknik Sipil ITS ini menjelaskan bahwa proyek reklamasi seluas 1.084 hektar ini dirancang dengan jarak 300 meter dari daratan.
Kajian pemodelan kelautan menunjukkan bahwa reklamasi tidak akan menyebabkan sedimentasi di hilir, sehingga tidak akan mengganggu kinerja saluran air. “Jika hilir terganggu, tentu akan ada pengaruh ke hulu. Namun, hasil kajian terakhir menunjukkan tidak ada penambahan sedimentasi di hilir akibat reklamasi,” tambah Satria.
Terkait jarak 300 meter antara daratan dan reklamasi, Satria menyatakan bahwa jarak tersebut sudah cukup. Kajian menunjukkan tidak ada perubahan pola pasang surut dengan jarak tersebut.
“Kami telah memeriksa dengan semua debit yang mengalir ke sana, tidak ada perubahan pasang surut dengan jarak 300 meter,” ungkap dia.
Satria juga menekankan bahwa sungai-sungai yang mengalir ke timur Surabaya tidak menghasilkan sedimentasi yang besar. Menurut kajian pakar hidro oceanografi, Profesor Suntoyo sedimen yang ada di sana berasal dari laut utara.
“Sungai-sungai yang mengalir ke timur sebagian besar hulunya adalah area perumahan, sehingga tidak ada sumber sedimen masif,” pungkas dia.[asg/kun]






