Malang (beritajatim.com) – Dua mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang menempati posisi strategis di pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto. Pertama mantan rektor UMM periode 2000 – 2016 Muhadjir Effendi.
Muhadjir ditunjuk sebagai penasihat khusus presiden bidang urusan haji. Nama Muhadjir sendiri sangat akrab di kabinet era Presiden Joko Widodo. Dua kali selama dua periode, Muhadjir dilibatkan dalam kabinet Jokowi.
Pada periode pertama Presiden Jokowi, jabatan menteri pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud) diemban oleh Muhadjir. Lalu, diperiode kedua dipercaya menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).
Selain Muhadjir mantan rektor UMM periode 2016 – 2023 Fauzan juga mendapat kepercayaan dari Prabowo Subianto sebagai Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) di Kabinet Merah Putih.
Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik mengatakan bahwa UMM memang selalu memberikan peluang luas bagi semua sivitas akademikanya untuk menumbuhkan bakat-bakat dan kualitas kepemimpinan. Hal itu menurutnya menjadi cara Kampus Putih untuk bisa memberi sumbangsih pada bangsa dan negara melalui kader-kader terbaiknya.
“Pemilihan Prof Muhadjir sebagai penasihat khusus presiden dan Prof Fauzan sebagai wamen diktisaintek membuktikan bahwa Kampus Putih UMM memang berhasil melahirkan SDM unggul yang turut berkontribusi di level nasional,” ujar pria yang akrab disapa Nazar itu, Selasa, 22 Oktober 2024.
Jauh sebelum Muhadjir dan Fauzan, UMM juga telah melahirkan Prof Abdul Malik Fadjar yang sukses menjalankan amanah di dua periode kabinet. Pertama, yakni menjadi menteri Agama kabinet Reformasi Pembangunan. Kemudian yang kedua yakni menjadi Menteri Pendidikan Nasional dalam kabinet Gotong Royong.
“Semoga keduanya mampu menjalankan tugas dengan baik dan memberikan kontribusi dan solusi atas pelbagai masalah yang terjadi di masyarakat. Mari kita doakan bersama, agar mereka selalu sehat dan diberi petunjuk oleh Tuhan yang maha esa,” ujar Nazar. (luc/kun)






