Surabaya (beritajatim.com) – Bersamaan dengan ramainya pembicaraan tentang childfree, data tingkat kelahiran anak negara-negara ASEAN tahun 2022 sudah keluar di awal tahun ini.
Setiap tahun dibutuhkan data tingkat kelahiran untuk menganalisis beberapa sektor humaniora, salah satunya pemikiran mengenai kelahiran anak seperti Childfree.
Data tersebut juga dibutuhkan untuk membuat kebijakan terkait dengan kependudukan. Salah satunya kebijakan tentang kependudukan, seperti alokasi dana APBN untuk kesejahteraan penduduk, penyediaan lapangan kerja, kesempatan pendidikan, dan lain sebagainya.
Angka Kelahiran Anak di ASEAN
Berdasarkan data dari United Nation, berikut adalah Total Fertility Rate atau Angka Kelahiran Anak di ASEAN (2022). Data ini dilaporkan menggunakan perhitungan jumlah anak rata-rata dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan.
Total Fertility Rate atau Angka Kelahiran Anak di ASEAN tahun 2022
– Timor Leste 3,05
– Filipina 2,73
– Laos 2,45
– Kamboja 2,32
– Indonesia 2,15
– Myanmar 2,13
– Vietnam 1,94
– Malaysia 1,79
– Brunei 1,76
– Thailand 1,32
– Singapura 1,03
[berita-terkait number=”5″ tag=”anak”]
Maksud dari data di atas, angka total fertility rate (TFR) dihitung rata-rata per penduduk perempuan.
Terlihat bahwa Tingkat Kelahiran Negara ASEAN 2022 tertinggi adalah Timor Leste, dan yang terendah adalah Singapura.
Timor Leste pada 2022 berada di angka 3,05, artinya setiap satu orang perempuan Timor Leste, rata-rata melahirkan 3 orang anak sepanjang masa aktif reproduksinya.
Sementara Indonesia ada di urutan kelima, dengan catatan angka 2,15. Itu artinya rata-rata perempuan Indonesia memiliki 2,15 anak. Atau bila dibulatkan menjadi 2 anak.
Angka Kelahiran Anak di ASEAN Menurun?
Angka kelahiran anak di negara ASEAN terus jauh menurun bila dibandingkan kurun waktu tahun 1960-1980.
Penurunan kelahiran paling besar adalah Laos yang angka TFR-nya anjlok dari 6,08 pada 1990 menjadi 2,45 pada 2022. Sementara kelahiran anak di Indonesia turun dari 3,1 pada 1990 menjadi 2,15 pada 2022.
Angka penurunan kelahiran anak ini, menguatkan beberapa isu soal pemikiran yang berkembang pada penduduk Asean. Seperti kesiapan pernikahan yang berdampak pada menurunnya tingkat kelahiran pada ibu muda, hingga isu Childfree.
Faktor Childfree
Faktor penyebab mengapa pasangan masih menunda mempunyai anak atau Childfree, telah diutarakan beberapa pakar. Salah satunya yang diambil dari situs Healthline, sebagai berikut:
1. Masalah keuangan atau finansial
2. Nilai yang dianut pasangan
3. Hanya ingin hidup berdua dengan pasangan
4. Masalah kesehatan
5. Belum merasa sanggup menjadi orang tua yang baik
Demikianlah tingkat kelahiran negara ASEAN tahun 2022. Data di atas menjadi pertimbangan beberapa instansi untuk membuat kebijakan, sekaligus membuktikan pemahaman baru yang berkembang di penduduk negara ASEAN. (kai/ian)






