Surabaya (beritajatim.com) – PT Magnet Solusi Integra (MSI) kembali menggelar HR webinar series kedua dengan tema “Adaptive Learning, New People Development Era”. Webinar ini menghadirkan Dr Harry Koeswanda SSos MSM, Asisten Deputi Bidang Evaluasi dan Pengukuran Pembelajaran BPJS Ketenagakerjaan, sebagai pembicara.
Dalam paparannya, Dr Harry Koeswanda SSos MSM, menekankan pentingnya adaptasi terhadap teknologi dalam pembelajaran. Menurutnya, teknologi seperti robotik dan kecerdasan buatan (AI) dapat membantu mempersonalisasi konten pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajar masing-masing individu.
“Saat ini gaya hidup generasi muda sudah berubah dan lebih banyak menggunakan teknologi seperti gadget hingga AI. Teknologi ini mampu menyampaikan konten pembelajaran kepada si pembaca ataupun pembelajaran, maka kita pun bisa memanfaatkannya,” ujar Harry.
Ia juga menyoroti dua pendekatan yang disampaikan oleh para peneliti terkait adaptif learning. Pertama, adalah menciptakan konten pembelajaran yang sesuai dengan kebiasaan pembelajar, misalnya visual atau audio. Kedua, adalah menggunakan algoritma komputer yang dapat beradaptasi dengan perubahan.
“Dengan kebiasaan-kebiasaan para pembelajar tadi saya katakan misalnya pembelajar yang visual kita harus menciptakan itu konten pembelajaran yang visualnya,” jelasnya.
Harry juga menekankan pentingnya kolaborasi global dalam pengembangan adaptif learning. Menurutnya, dengan kolaborasi, materi pembelajaran dapat diakses kapan saja dan di mana saja, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih fleksibel dan efisien.
Selain itu, Harry juga membahas tentang pentingnya komunikasi dua arah dalam organisasi. Menurutnya, komunikasi yang baik antara manajemen dan karyawan dapat mendorong terciptanya ide-ide baru dan inovasi.
“Komunikasi itu harus 2 arah bukan hanya top manajemen saja yang bisa bicara ke bawahan, tapi bawahan juga bisa menyampaikan ide-idenya ke atasan,” katanya.
Harry juga menyampaikan tiga komponen penting dalam menciptakan learning culture, yaitu leader, sistem, dan value. Ia menekankan bahwa learning culture harus dimulai dari para pemimpin yang memberikan contoh dan membuka peluang bagi knowledge sharing.
“Ada 3 komponen penting yang harus dimiliki perusahaan ketika menciptakan learning capture yang handal. Yakni Leader yang bisa menjadi contoh. Dan sistem manajemen yang mendukung pembelajaran hingga value,” ujarnya.
Selama webinar berlangsung ratusan peserta yang ikut dalam HR Webinar sangat antusias untuk berdiskusi dengan lulusan doktoral dari IPB itu. Salah satunya tentang cara menumbuhkan semangat belajar di era teknologi dan AI sementara karyawannya banyak dari generasi baby boomer.
Harry mengatakan bahwa kelas konvensional masih relevan, terutama bagi generasi baby boomer yang masih nyaman dengan gaya belajar tersebut. Namun, ia juga mengakui bahwa IT memiliki peran penting dalam pemberdayaan SDM.
“Memang tidak terelakkan IT memang masuk dalam pemberdayaan sumber daya manusia dan karyawan harus beradaptasi. Dan AI itu cukup membantu,. salah satunya membuat naskah pidato. Memang prompt-nya harus dipikirkan secara detail oleh manusia,” ungkapnya.
Harry juga menyoroti pentingnya adaptasi terhadap AI. Menurutnya, AI tidak akan bisa menggantikan manusia sepenuhnya, tetapi manusia tetap menjadi pemandu atas AI.
Terakhir, Harry memberikan tips untuk memperkecil gap antar generasi, yaitu dengan menyesuaikan diri dengan kemajuan budaya belajar dan teknologi pembelajaran. Ia juga menekankan pentingnya peran leader dalam menciptakan learning culture di organisasi.
“Learning culture ini tergantung leadernya. Dan leader harus mencontohkan pembelajaran itu sendiri,” pungkasnya.[rea]






