Banyuwangi (beritajatim.com) – Polresta Banyuwangi terus mengupayakan penguraian kemacetan parah yang terjadi di sekitar Pelabuhan Ketapang, imbas pembatasan operasional kapal landing craft machine (LCM). Hingga Kamis (24/7/2025), antrean kendaraan masih mengular panjang dari Pelabuhan Ketapang hingga kawasan Baluran, perbatasan Situbondo.
Kemacetan ini diperparah dengan penutupan Jalur Gumitir yang menghubungkan Jember dan Banyuwangi. Kondisi tersebut memaksa sebagian besar kendaraan angkutan berat mengandalkan jalur penyeberangan di Pelabuhan Ketapang, sehingga kepadatan tidak terhindarkan.
Kapolresta Banyuwangi AKBP Teguh Priyo Wasono menyebut, sepertiga kekuatan personel Polresta telah diterjunkan ke lapangan untuk menangani situasi tersebut. “Kami terus berkoordinasi dengan ASDP dan KSOP agar proses bongkar muat kapal bisa lebih cepat dan antrean bisa terurai,” jelas Teguh.
Menurutnya, dominasi kendaraan truk besar menjadi tantangan utama. Meski kemacetan bersifat putus-putus, titik kepadatan terpantau masih terjadi hingga jalan Alas Baluran. Untuk mengurai antrean, otoritas pelabuhan telah menambah armada kapal. “Kali ini di LCM ada penambahan armada menjadi enam kapal penyeberangan khusus untuk tronton. Kemudian di MB4 ada empat kapal serta di Dermaga Bulusan ada dua kapal. Harapan kami nanti bisa membantu untuk mengurangi kepadatan,” tambahnya.
Polresta Banyuwangi juga menerapkan rekayasa lalu lintas. Truk dari arah selatan dialihkan melalui jalur lingkar. “Kami juga berlakukan aturan tegas, tidak boleh ada yang ngeblong jalan. Semua harus ikut antrean,” kata Teguh.
Pantauan terakhir menunjukkan antrean kendaraan terpanjang berada di wilayah Wongsorejo. Teguh mengimbau para sopir truk untuk bersabar dan tetap mematuhi aturan di tengah situasi yang belum kondusif. “Lambat laun akan mengalir, kami juga berupaya agar truk dapat masuk kapal secara tertib dan terarah,” ucapnya.
Ginanjar, salah satu sopir truk asal Surabaya, mengaku terjebak macet selama 12 jam saat mengangkut semen menuju Denpasar. “Sepanjang lima tahun saya jadi sopir mengirim semen ke Denpasar, kali ini parah sekali. Bahkan sudah dua hari macet, sekarang masih sampai depan pintu pelabuhan,” tuturnya. [alr/beq]






