Mojokerto (beritajatim.com) – Dalam rangka menyambut perayaan Tahun Baru 2023, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) menggelar Gebyar pasar murah. Pasar murah yang digelar selama dua hari ini digelar di rest area Palem Kembar, Desa Seduri, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.
Pasar murah digelar untuk menjaga stabilitas harga barang kebutuhan pokok di pasaran dan menekan laju inflasi di bumi Majapahit. Hal tersebut sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo yang meminta Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersinergi.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-moiokerto”]
TPIP dan TPID bersinergi dalam menjaga stabilitas harga dan meningkatkan ketahanan pangan, sehingga mendukung daya beli masyarakat dan pemulihan ekonomi nasional. Secara langsung, operasi pasar murah dibuka langsung oleh Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati dan launching produk olahan cabe IKM.
Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati mengatakan, operasi pasar digelar sebagai wujud nyata peran pemerintah untuk membantu masyarakat mengendalikan harga kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. “Ini upaya pemerintah mengendalikan agar harga tidak terlalu mahal,” ungkapnya, Kamis (29/12/2022).
Dan sisi yang lain, lanjut Bupati perempuan pertama di Kabupaten Mojokerto ini, pasae murah digelar untuk menjaga Ketersediaan pangan yang melimpah agar tidak terlalu murah. Salah satu faktor adanya inflasi disebabkan oleh harga bahan makanan pokok (volatile foods) yang memiliki potensi fluktuasinya tinggi.
“Seperti cabe rawit. Jadi cabe rawit merupakan komponen pembentuk angka inflasi yang sangat besar karena pas murah bisa murah sekali kalau lagi mahal bisa mahal sekali. Kenaikan harga cabai segar sering kali disebabkan terganggunya pasokan akibat faktor musim,” katanya.
Di mana, lanjut orang nomor satu di lingkup Pemkab Mojokerto ini, saat distribusi pengiriman cabai kurang lancar, permintaan justru meningkat. Selain itu dari sisi permintaan, perilaku masyarakat yang biasa mengkonsumsi cabai segar menyebabkan permintaan cabai di periode tertentu mengalami fluktuasi harga.
“Seperti Lebaran, puasa dan tahun baru ini sangat meningkat tajam harga cabainya. Masyarakat agar mengubah pola konsumsi cabai mereka, dari semula cabai segar menjadi cabai olahan. Hal itu sebagai antisipasi saat pasokan cabai berkurang dengan harga yang tinggi,” tegasnya.
Sementara, tambah Bupati, tugas pemerintah daerah adalah mempromosikan dan merubah perilaku masyarakat dari yang sebelumnya sangat tergantung dengan cabai segar. Sehingga Kabupaten Mojokerto akan punya peluang lebih baik dalam mengendalikan inflasi dan distribusi cabai. [tin/kun]







