Pamekasan (beritajatim.com) – Tim Kabupaten (Timkab) Program Keluarga Harapan (PKH) Pamekasan, target graduasi sebanyak 1.890 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang tersebar di 13 kecamatan berbeda di Pamekasan.
Target tersebut berdasar jumlah petugas pendamping PKH di Pamekasan, yakni sebanyak 189 orang. Sehingga masing-masing pendamping tidak hanya bertugas memastikan bantuan pemerintah tepat sasaran, tetapi juga ditarget bisa melakukan graduasi minimal bagi 10 (sepuluh) KPM di wilayah dampingan.
“Saat ini total pendamping PKH di Pamekasan, terdata sebanyak 189 orang. Sehingga target 10 KPM bisa mencapai angka sebanyak 1.890 KPM di setiap tahunnya,” kata Koordinator Timkab PKH Pamekasan, Lukman Hakim, Senin (9/2/2026).
Proses graduasi tersebut menerapkan tiga skema berbeda yang berorientasi menuju kemandirian ekonomi. “Skema pertama dengan graduasi mandiri guna lepas dari bantuan sosial, di mana setiap KPM secara sukarela mengundurkan diri karena kondisi ekonomi yang bersangkutan sudah membaik dan tidak lagi membutuhkan bantuan,” ungkapnya.
“Skema kedua melalui Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi atau PPSE dengan cara memberikan program pelatihan beserta modal usaha yang didampingi masing-masing pendamping selama setahun. Jika usahanya dinilai mampu menopang perekonomian berkelanjutan, kepesertaan PKH selanjutnya kita hentikan,” imbuhnya.
Sementara skema ketiga graduasi alami atau graduasi sistemik dengan mengandalkan pada program sistem. “Artinya penghentian bantuan dilakukan secara otomatis melalui sistem, karena KPM tidak lagi memenuhi kriteria kepesertaan. Semisal tidak lagi memiliki anak usia sekolah atau komponen kesehatan seperti lansia dan disabilitas, sekalipun secara ekonomi kasih tergolong rendah,” sambung Lukam Hakim.
Lebih lanjut dijelaskan jika proses graduasi tersebut dilakukan melalui pengusulan dari masing-masing pendamping yang dilakukan setiap bulan. “Hanya saja untuk proses rekapitulasi dilakukan pada akhir tahun, sehingga dengan begitu dapat diketahui target graduasi tercapai atau tidak,” jelasnya.
“Sehingga jika sudah masuk graduasi, kami tetap lakukan pemantauan dan monitoring secara berkala untuk memastikan mereka sudah masuk katagori sejahtera alias tidak miskin lagi,” pungkasnya. [pin/aje]






