Setelah enam dasawarsa, Piala Dunia kembali ke Prancis pada 1998. Jika pada 1938, turnamen itu dibayang-bayangi Perang Dunia II, Eduardo Galeano dalam buku Soccer in Sun and Shadow menyebut Piala Dinia kali ini diselenggarakan di tengah keterpurukan pasar saham Asia.
“Begitu pula kediktatoran panjang Suharto di Indonesia, yang telah kehilangan kekuasaannya meskipun kantongnya masih penuh dengan uang sebesar 16 miliar dolar AS yang telah ditempatkan kekuasaannya di sana.”
Dan setelah melewati masa penjajahan kolonial, pemerintahan Orde Lama, dan 32 tahun rezim Orde Baru, tim nasional Indonesia belum juga sanggup lolos kualifikasi Piala Dunia kendati jumlah peserta bertambah dari 24 tim menjadi 32 tim. Asia diwakili Arab Saudi, Korea Selatan, dan Jepang.
Babak kualifikasi memang berlangsung ketat dan diikuti 174 negara. Negara-negara besar seperti Jerman, Spanyol, Belanda, Italia, Inggris, dan Skotlandia terbang ke Prancis. Begitu pula Kroasia yang nantinya akan memberikan kejutan.
Brasil membuka turnamen pada 10 Juni 1998 dengan mengalahkan Skotlandia 2-1. Norwegia merebut posisi kedua Grup A setelah mengalahkan Brasil 2-1 pada pertandingan terakhir grup. Tertinggal lebih dulu lewat gol Bebeto pada menit ke-78, Norwegia bangkit membalikkan keadaan melalui gol Tore André Flo pada menit 83′ dan penalti Kjetil Rekdal enam menit kemudian.
Sementara itu Italia memuncaki Grup B dan Prancis tampil sempurna dengan memenangi seluruh pertandingan di Grup C.
Kejutan terjadi di Grup D, Spanyol tersingkir setelah kalah 2-3 dari Nigeria dan bermain imbang 0-0 dengan Paraguay. Kemenangan 6-1 atas Bulgaria tak bisa membantu, karena Nigeria dan Paraguay yang melangkah ke babak berikutnya.
Sejumlah tim Eropa dan Amerika juga berhasil lolos ke Babak 16 Besar: Belanda, Meksiko, Jerman, Yugoslavia, Romania, dan Inggris.
Babak 16 Besar kembali mempertemukan Inggris dan Argentina dalam sebuah laga klasik penuh drama. Michael Owen mencetak gol spektakuler yang membawa keunggulan Inggris.
Namun kehilangan David Beckham yang mendapat kartu merah setelah insiden dengan Diego Simeone sangat merugikan Inggris. Pertandingan berakhir imbang 2-2 dan Argentina menang 4-3 melalui adu penalti.
Kroasia membuat kejutan besar di perempat final dengan mengalahkan Jerman 3-0. Brasil menyingkirkan Denmark 3-2 dan Prancis mengalahkan Italia 4-3 melalui adu penalti. Belanda melaju setelah gol indah Dennis Bergkamp menyingkirkan Argentina 2-1.
Brasil melaju ke final dengan mengalahkan Belanda 4-2 melalui adu penalti setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit. Sementara itu Kroasia sempat mengejutkan publik tuan rumah setelah unggul lebih dulu melalui Davor Suker. Dua gol Lilian Thuram menyelamatkan tiket Prancis ke final di Paris.
Gagal di semifinal, Kroasia menutup turnamen dengan meraih posisi ketiga setelah mengalahkan Belanda 2-1. Davor Suker meraih Sepatu Emas dengan enam gol sepanjang turnamen.
Berhadapan dengan Brasil di partai puncak, Prancis tak diperkuat Laurent Blanc yang mendapat kartu merah saat menghadapi Kroasia. Namun Brasil juga sempat dibuat cemas oleh kondisi Ronaldo. Dia dikabarkan tidak berlatih selama dua hari dan baru dinyatakan siap bermain sesaat sebelum laga dimulai. Alhasil namanya sempat tidak tercantum dalam susunan pemain awal.
Sejak menit awal, Prancis tampil agresif dan percaya diri. Mereka mengalirkan bola dengan cepat serta terus menekan pertahanan Brasil. Stephane Guivarc’h sempat memperoleh peluang emas, namun gagal memanfaatkannya.
Brasil kesulitan mengembangkan permainan. Serangan mereka tidak berjalan efektif dan hanya sesekali mengancam melalui situasi bola mati. Penampilan Ronaldo juga jauh dari performa terbaiknya.
Lemahnya pertahanan Brasil sebenarnya sudah terlihat sejak awal turnamen. Namun pelatih Mario Zagallo tidak berhasil menemukan solusinya. Dalam final, kelemahan itu terlihat jelas. Junior Baiano tampil sangat buruk dan menjadi salah satu titik lemah yang terus dieksploitasi Prancis.
Prancis akhirnya unggul melalui sepak pojok. Zinedine Zidane menyundul bola yang dikirim Emmanuel Petit ke tiang dekat. Gol inii membuat Prancis semakin percaya diri dan Brasil kehilangan ketenangan.
Menjelang akhir babak pertama, Prancis kembali mendapat sepak pojok. Kali ini Youri Djorkaeff mengirimkan umpan yang kembali disambut Zidane dengan sundulan akurat. Prancis menutup babak pertama dengan keunggulan 2-0.
Zagallo mencoba mengubah keadaan pada babak kedua dengan memasukkan Denilson. Ronaldo mendapatkan satu peluang terbaik, namun berhasil digagalkan penjaga gawang Fabien Barthez yang tampil sangat baik sepanjang pertandingan.
Prancis bermain dengan sepuluh pemain setelah Marcel Desailly menerima kartu merah. Namun keunggulan jumlah pemain tidak mampu dimanfaatkan Brasil. Serangan-serangan mereka tetap tidak terorganisasi, sementara Prancis bertahan dengan disiplin tinggi.
Prancis memastikan kemenangan setelah skema serangan balik yang dibangun Christophe Dugarry berakhir dengan umpan kepada Patrick Vieira, yang kemudian memberikan bola kepada Emmanuel Petit untuk mencetak gol ketiga.
Akhirnya Piala Dunia memiliki juara baru. Keberhasilan ini juga membuat Prancis sejajar dengan Italia dan Argentina yang menjadi juara di depan publik sendiri. [wir/but]






