Dalam filosofi orang Jawa, ada larangan mendahului suratan takdir atau ‘ndisiki kerso’. Filosofi ini mengajarkan manusia untuk tetap rendah hati kendati kuat. Dalam budaya Barat, ada istilah jinx, yang artinya tindakan atau ucapan yang dianggap bisa mendatangkan kesialan.
Kegagalan tuan rumah Brasil menjuarai Piala Dunia 1950 menjadi contoh bagus bagaimana kepercayaan diri berlebihan yang mendahului takdir bisa berbalik menjadi kesialan.
Ini penyelenggaraan Piala Dunia pertama setelah tertunda sejak 1938 karena Perang Dunia II. Brasil terpilih menjadi tuan rumah, dan publiknya percaya diri bakal menjadi juara di kandang sendiri. Wajar saja, mengingat setahun sebelumnya mereka menjuarai Kejuaraan Sepak Bola Amerika Selatan
Pemerintah pun membangun stadion megah Estadio do Maracana, yang saat itu menjadi stadion sepak bola terbesar di dunia dengan kapasitas 200 ribu penonton sebagai bukti keseriusan.
Ini kali pertama juga trofi Piala Dunia dinamai Jules Rimet Cup sebagai penghormatan kepada Presiden FIFA Jules Rimet yang telah memimpin organisasi tersebut selama 25 tahun. Ottorino Barassi dari Federasi Sepak Bola Italia menyembunyikannya di dalam kotak sepatu di bawah tempat tidurnya agar tidak jatuh ke tangan Nazi.
Terjadi perubahan format kompetisi. Setelah babak penyisihan grup, empat juara grup akan bertemu dalam grup final. Tim yang memuncaki klasemen setelah seluruh pertandingan selesai akan dinobatkan sebagai juara dunia. Format ini dipilih karena menjamin setiap tim memainkan lebih banyak pertandingan sekaligus meningkatkan pemasukan dari penjualan tiket.
Namun menyelenggarakan Piala Dunia lima tahun setelah Perang Dunia II berakhir memunculkan kendala. Jerman dan Jepang dilarang berpartisipasi, sementara banyak negara Eropa Timur memilih tidak ikut.
Dari 34 negara yang ikut kuealifikasi, hanya 13 tim yang akhirnya datang ke Brasil. Argentina mengundurkan diri karena berkonflik dengan Brasil. Prancis menolak berangkat karena harus menempuh perjalanan sangat jauh antar lokasi pertandingan.
Namun meminjam pepatah: tak ada Argentina, Urugiay pun jadi. Juara dunia edisi pertama Uruguay akhirnya memutuskan ikut serta. Inggris yang selama tiga Piala Dunia memilih absen, kali ini juga berpartisipasi setelah negara-negara Britania bergabung dengan FIFA.
Namun, Skotlandia yang berhasil lolos justru menolak berangkat. Ketua Federasi Sepak Bola Skotlandia, George Graham, bersikeras bahwa timnya hanya akan pergi ke Brasil apabila menjadi juara Britania di Home Tournament. Posisi runner-up di bawah Inggris sudah cukup jadi alasan untuk absen.
Alasan paling aneh untuk tidak ikut serta datang dari India. Mereka membatalkan keikutsertaannya dengan alasan biaya perjalanan dan perdebatan mengenai larangan bermain tanpa alas kaki.
Brasil tampil meyakinkan sejak awal. Dalam laga pembuka, Selecao mengalahkan Meksiko 4-0 dengan dua gol dari Ademir.
Di luar dugaan Swiss berhasil menghambat Brasik dengan skor 2-2. Namun dua gol Ademir dan Zizinho ke gawang Yugoslavia di hadapan lebih dari 140 ribu penonton di Maracana membawa Beasil lolos ke babak final grup.
Sementara ittu di Grup 2. Inggris yang datang dengan diperkuat Stanley Matthews, Tom Finney, dan Billy Wright berhasil mengalahkan Chile 2-0 pada pertandingan pertama.
Mereka tumbang 0-1 di tangan Amerika Serikat yang berstatus tim amatir melalui gol Joe Gaetjens pada menit ke-38. Para pemain Inggris gagal menembus gawang Frank Borghi tampil luar biasa. Inggris kemudian tersingkir setelah kalah 0-1 dari sang juara grup Spanyol.
Kejutan juga terjadi di Grup 3. Juara bertahan Italia kalah 2-3 dari Swedia. Kendati berhasil mengalahkan Paraguay 2-0, Swedia yang akhirnya melaju ke babak final grup.
Kegagalan Italia ini tak lepas dari dampak tragedi udara Superga pada 1949 yang menewaskan hampir seluruh skuad Torino yang merupakan tulang punggung tim nasional Italia saat itu. Kehilangan generasi emas membuat kekuatan Italia menurun drastis.
Sementara itu di Grup 4, Uruguay lolos setelah mengalahkan Bolivia 8-0. Ini satu-satunya pertandingan yang dimainkan di fase grup, karena jumlah peserta yang tidak lengkap.
Babak final grup mempertemukan Brasil, Uruguay, Spanyol, dan Swedia. Brasil tampil dominan dan menghancurkan Swedia 7-1. Empat gol dicetak Ademir.
Tak cukup itu. Spanyol pun digilas 6-1. Rakyat Brasil makin yakin bahwa mereka akan juara dunia. Apalagi di lain pihak, Uruguay yang nmenjadi lawan pamungkas Selecao tampil kurang trengginas.
Setelah bermain imbang 2-2 melawan Spanyol, Urugiay hanya menang tipis 3-2 atas Swedia, Itu pun mereka sempat tertinggal 1-2 sebelum diselamatkan dengan dua gol Oscar Miguez.
Pertandingan terakhir antara Brasil dan Uruguay pada 16 Juli 1950 di Maracana menjadi penentuan gelar juara. Brasil hanya membutuhkan hasil imbang untuk menjadi juara dunia. Optimisme terlihat di mana-mana. Surat kabar telah menyebut Brasil juara dunia sebelum pertandingan dimainkan.
Namun, Uruguay punya filosofi pantang menyerah yang disebut garra. Dipimpin kapten Obdulio Varela, mereka tidak terpengaruh oleh tekanan besar 200 ribu penonton yang memadati stadion.
Mengadaptasi taktik Swiss, Uruguay memainkan taktik bertahan dengan penuh disiplin sehingga membuat skor tetap 0-0 hingga turun minum.
Awal babak kedua, Friaca mencetak gol pembuka untuk Brasil setelah menerima umpan dari Ademir. Stadion bergemuruh menyambut gol, yang membawa Brasil semakin dekat kepada gelar juara.
Namun pada menit ke-66, Alcides Ghiggia melewati pemain bertahan Brasil dan mengirim umpan yang diselesaikan Juan Schiaffino. Skor imbang.
Brasil sebenarnya tak perlu panik, karena hasil imbang juga sudah cukup untuk menobatkan mereka menjadi juara dunia.
Namun Ghiggia menghancurkan mimpi rakyat Brasil. Tembakan langsung dari sudut sempit yang mengejutkan kiper Barbosa mengubah kedudukan menjadi 2-1 untuk Uruguay.
Ketika wasit George Reader meniup peluit akhir, suasana yang sebelumnya penuh kegembiraan berubah menjadi keheningan. Hanya sorak sorai pemain Uruguay yang terdengar. Mereka menjadi juara dunia. Kali ini terasa lebih sempurna karena dilakukan di negara tetangga yang berstatus juara Amerika Latin.
Kekalahan yang dikenang sebagai Maracanazo tersebut meninggalkan luka mendalam bagi Brasil. Banyak pemain memilih menghilang dari sorotan publik. Sejak saat itu seragam putih tak lagi digunakan karena dianggap membawa sial. Brasil mengganti warna jersey menjadi kuning keemasan seperti warna bendera nasional. [wir/aje]






