Jember (beritajatim.com) – Penyelenggaraan Piala Dunia sejak 13 Juni hingga 19 Juli 2026 memberikan pesan yang gamblang bahwa sepak bola dan politik tidak terpisahkan. Sepak bola adalah arena perjuangan dan pertarungan politik.
Setidakya demikian menurut Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Jember, Jawa Timur,Madini Farouq dan Ketia Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra Jember Ahmad Halim, usai menyaksikan siaran langsung di kediaman masing-masing, Senin (20/7/2026).
“Saya melihat di Piala Dunia 2026 ini isu yang dimunculkan lebih banyak soal Israel dan Palestina, termasuk dalam final, ada anggapan bahwa Argentina didukung Israel. Ada beberapa dokumen foto pendukung Argentina malah mengibarkan bendera Israel,” kata Halim.
“Sementara Spanyol dalam hal ini lebih banyak mendukung Palestina, sehingga menuai simpati publik lebih banyak,” kata Halim.
Madini menegaskan bahwa politik dan sepak bola sama-sama ideologis ketika bicara kemanusiaan. “Saya mendukung Spanyol setelah Mesir tersingkir karena dukungan pemerintah Spanyol kepada saudara-saudara kita di Palestina,” katanya.
Pemain muda Spanyol Lamine Yamal tidak segan-segan mengibarkan bendera Palestina sebagai bentuk dukungan, kendati dikecam oleh sejumlah kalangan karena dianggap mencampuradukkan politik dan sepak bola. Lamine Yamal adalah contoh pesepakbola muslim yang mulai muncul di dunia sepak bola internasional.
Negara Islam yang mayoritas muslim seperti Mesir dan Maroko masing-masing bisa masuk hingga fase 16 Besar dan perempat final. “Dan ternyata ada pemain Spanyol dan Prancis yang muslim. Ini artinya ada pergeseran budaya di negara Eropa yang lebih menghormati pluralisme,” kata Halim.
Mulai bangkitnya kekuatan sepak bola muslim membuat Madini Farouq terinspirasi. Sebagaimana para pesepakbola muslim yang tak segan menunjukkan identitas mereka, menurut Madini, PPP tidak segan menunjukkan jati diri sebagai partai berasaskan Islam.
“Toh akhirnya pemenang sejati yang akan menjadi Juara. Bukan tim yg direkayasa untuk menang. Kemenangan akan menemui juara yg sebenarnya, bukan yang direkayasa,” kata Madini.
Madini mengingatkan bagaimana Orde Baru merekayasa pemilu agar PPP kalah. “Namun hingga saat ini PPP bertahan, walau sekarang sedang diuji dengan persoalan internal hingga belum lolos ke senayan. Tapi kami yakin pada akhirnya pemenang tetaplah yang menjadi juara,” katanya. [wir/aje]






