Jember (beritajatim.com) – Penggunaan teknologi dalam sepak bola perlu diadaptasi oleh dunia politik Indonesia, untuk menekan angka kecurangan dan kesalahan dalam pemilu.
Usulan ini dikemukakan Ketua DPRD Kabupaten Jemnber, Jawa Timur, Ahmad Halim, dan anggota Fraksi Partai Partai Keadilan Sejahtera Achmad Dhafir Syah, usai menyaksikan siaran langsung final Piala Dunia, Senin (20/7/2026).
Dhafir mengatakan, selama lima tahun terakhir teknologi menjadi pertimbangan dalam mengambi keputusan di lapangan. “Ini perlu ditiru dunia politik,” katanya.
Teknologi terbukti menekan kecurangan atau pelanggaran dalam sepak bola. Dhafir percaya, andaikan sistem regulasi, atau teknologi alat yang dimiliki penyelenggarta pemilu bisa dimaksimalkan sebagaimana dalam sepak bola, maka hasil pemilu akan bisa berkualitas.
Dhafir berharap, pihak-pihak yang curang dalam pemilu bisa dideteksi oleh teknologi dan diberikan sanksi tegas. “Bahkan bisa diberi kartu merah dan dikeluarkan dari permainan,” katanya.
Setali tiga uang, Ahmad Halim mengatakan, pemanfaatan teknologi Video Assistant Referee bisa menjaga kualitas pertandingan karena wasit bisa mengambil keputusan lebih akurat. “Walaupun ada beberapa catatan ternyata bahwa tidak semuanya keputusan VAR adil, sebagaimana yang menimpa Mesir saat melawan Argentina,” katanya.
Selain penggunaan teknologi, Dhafir melihat Piala Dunia 2026 menghadirkan inspirasi bagi politisi dan orang-orang yang bekerja di dunia politik. Dia mencontohkan fenomena Daud dan Goliat terlihat saat sejumlah negara raksasa sepak bola seperti Jerman, Belanda dan Brasil harus pulang lebih awal karena didepak negara-negara kecil seperti Paraguay, Maroko, dan Norwegia.
“Tanjung Verde yang mampu menyulitkan Argentina membuka mata kita, bahwa negara kecil tidak bisa dianggap remeh,” kata Dhafir.
Hal serupa teerjadi di dunia politik. Menurut Dhafir, partai-partai besar yang berkuasa hari ini bakal mengalami kesulitan saat pemilu, jika memandang sebelah mata partai-partai kelas menengah atau pendatang baru yang memiliki soliditas kader dan amunisi politik.
Fenomena berikutnya adalah fenomena tuan rumah. “Mitos bahwa tuan rumah akan diuntungkan atau mulus menapaki fase berikutnya ternyata tidak terbukti benar, Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada harus rela jadi penonton di kandangnya sendiri setelah kalah di Babak 16 Besar,” kata Dhafir.
Dhafir mengingatkan fenomena ini bisa terjadi pada partai-partai tradisional yang berkuasa di kabupaten, kota, dan provinsi dalam setiap pemilu. “Jika partai tidak aware, meng-update, sekaligus meng-upgrade diri masing-masing. baik itu manajemen kepartaian maupun sumber daya manusia kepengurusan,” katanya.
Pelajaran ketiga adalah tongkat estafet. “Spanyol sukses membina, mencetak dan meneruskan tongkat prestasi kepada anak-anak muda setelah 16 tahun melakukan regenerasi. Kini mereka memetik hasil dengan diperkuat taburan pemain bintang di liga top dengan rentang usia sangat muda, antara 18-25 tahun,” kata Dhafir.
Partai politik harus meniru Spanyol dalam meregenerasi sumber daya manusia. “Kaderisasi sejak dini wajib dilaksanakan supaya tetap bisa eksis dan tongkat estafet prestasi tetap bisa dipertahankan,” kata Dhafir.
Sebagaimana pemain sepak bola, politisi harus jiuga punya kepekaan sosial. “Saya bangga dan kagum atas sense of solidarity dan responsibility seperti yang ditunjukkan Lamine Yamal dari Spanyol yang membela Palestina,” kata Dhafir.
Menurut Dhafir, tindakan Lamine Yamal tidak mempolitisasi sepak bola. “Justru itu respons dan empati atas kondisi yang dialami masyarakat Palestina, dengan harapan langkah demikian bisa membuka hati nurani sesama anak muda dan anak bangsa, bahwa mereka punya hak hidup, hak aman, dan hak nyaman terbebas dari belenggu penjajahan,” katanya.
Dhafir juga berharap konstituen partai politik bisa meniru penonton sepak bola Piala Dunia. “Pendukung tim yang berbeda-beda bisa duduk berbaur tanpa terjadi bentrokan. Tidak ada perundungan pada lawan yang kalah,” katanya. [wir/aje]

as a preferred source on Google




