Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 segera digelar. Waktunya tanggal 27-31 Agustus 2026. Sekitar sebulan lagi perhelatan akbar itu digelar. Sejumlah nama muncul sebagai calon ketua umum (Ketum) PBNU. Banyak figur dari Pulau Jawa. Namun ada juga figur di antaranya dari luar Jawa.
Pilihan tuan rumah jatuh ke Pondok Bahrul Ulum Tambakberas di Kabupaten Jombang. Pondok ini yang didirikan KH Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri NU selain KH Hasyim Asy’ari dan KH Bisri Syansuri. Ketiga kiai kalangan komunitas Islam Tradisional itu semuanya berasal dari Jombang.
Pondok Bahrul Ulum Tambakberas Jombang merupakan salah satu ‘kiblat’ penting wahana pendidikan santri Islam Tradisional (NU) di Indonesia. Ada banyak pondok lain di Jatim dan provinsi lainnya yang punya peran strategis serupa. Di antaranya Pondok Tebuireng Jombang, Pondok Mambaul Ma’arif Jombang, Pondok Darul Ulum Jombang, Pondok Langitan Tuban, Pondok Nurul Jadid Paiton Probolinggo, Pondok Sidogiri Pasuruan, Pondok Krapyak Yogyakarta, Pondok API Tegalrejo Magelang, Pondok Lirboyo Kediri, Pondok Ploso Kediri, Pondok Al Anwar Sarang Rembang, Pondok Raudhlatut Tholibin Leteh Rembang, dan banyak pondok lainnya.
Sebelum muktamar NU ke-35 di Pondok Tambakberas Jombang, perhelatan serupa sekitar 5 tahun lalu berlangsung di Provinsi Lampung. Sebelum itu, muktamar NU ke-33 pada 1-5 Agustus 2015 juga berlangsung di Kabupaten Jombang. Tepatnya, kegiatan itu digelar di kawasan Alun-alun Jombang.
Jauh sebelum itu, muktamar NU ke-32 digelar di Kota Makassar pada 23–28 Maret 2010. Pembukaan acara dipusatkan di Gedung Celebes Convention Centre dan sidang-sidang plenonya bertempat di Asrama Haji Sudiang, Kota Makassar.
Muktamar NU ke-35 digelar di Pondok Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Lembaga pondok merupakan entitas sosial kultural dan historis bersifat original kaum Islam Tradisional (NU).
Dari lingkungan inilah lahir NU yang dimotori banyak kiai pimpinan pondok yang selama ratusan tahun memegang teguh ajaran Ahlussunnnah Wal Jamaah (Aswaja). Pada 31 Januari 1926, bertempat di Kota Surabaya, NU didirikan KH Hasyim Asy’ari, seorang ulama Islam Tradisional yang sangat dihormati dan pendiri Pondok Tebuireng Jombang.
Figur Jawa dan Luar Jawa
Ada banyak agenda penting muktamar. Dua di antaranya pemilihan Rais Am dan Ketua Umum (Ketum) PBNU. Dua jabatan itu posisi puncak organisasi. Rais Am adalah kepemimpinan tertinggi di PBNU. Biasanya diisi ulama yang kapasitas, pengetahuan, kredibilitas, dan integritasnya sangat kuat.
Rais Am PBNU biasanya diisi kiai khos. Ulama yang memiliki kedalaman dan keluasan ilmu tinggi, nilai-nilai keulamaannya diakui dan dihormati di antara banyak kiai NU lainnya. Lebih-lebih di mata jamaah dan jam’iyyah NU.
Biasanya ulama NU ahli fiqih yang dipilih sebagai Rais Am PBNU. Tiga Rais Am PBNU yang pertama: KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri, dikenal sebagai ulama dengan kedalaman ilmu fiqih yang luar biasa.
Begitu pun dengan KH M Ali Maksum, KH Achmad Siddiq, KH Moh Ilyas Ruhiyat (1992-1999), dan KH MA Sahal Mahfudh merupakan ulama NU yang dikenal pengetahuan dan wawasan keagamaannya luas, khususnya terkait dengan ilmu fiqih.
Pada muktamar NU ke-35 tahun ini di Pondok Bahrul Ulum Tambakberas Jombang mengangkat tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa”. Sejumlah nama muncul sebagai kandidat Ketum: KH M Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) dari Pondok API Tegalrejo Magelang, KH Yahya Cholil Staquf (Petahana/Rembang), KH Zulfa Mustofa (Wakil Ketua Umum PBNU), KH Abdul Hakim Mahfudz (Ketua PWNU Jatim/Pondok Tebuireng Jombang), Menteri Agama Prof Dr KH Nasaruddin Umar, KH Abdussalam Shohib (Pengasuh Pondok Denanyar Jombang), dan lainnya.
Banyak figur berlatar Pulau Jawa, tapi ada pula kandidat berlatar belakang luar Pulau Jawa. Nama kandidat petahana, KH Yahya Cholil Staquf yang berasal dari Pondok Raudhlatut Tholibin Rembang, Jateng disebut-sebut masih memiliki kans/peluang tampil kembali sebagai Ketum PBNU. Yang bersangkutan menyatakan komitmen dan kesediaannya masuk bursa calon Ketum PBNU.
Nama lain dari luar Pulau Jawa yang punya kans besar bersaing ketat dengan Gus Yahya, panggilan akrab KH Yahya Cholil Staquf, adalah Prof Dr KH Nasaruddin Umar, Menteri Agama (Menag) dan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta. Dia sedang duduk di kursi kekuasaan sebagai anggota Kabinet Merah Putih.
Logikanya, Nasaruddin adalah figur yang dekat dan dipercaya Presiden Prabowo Subianto. Apakah dia bakal didukung kekuasaan untuk melanggang ke bursa calon Ketum PBNU? Bisa jadi.
Yang pasti kursi Ketum PBNU merupakan posisi strategis dalam perspektif sosial keagamaan maupun sosial politik. Sebab, jumlah massa (jemaah) NU sangat besar.
Secara politik praksis, jemaah NU tak jarang menjadi bandul politik penentu pemenang kontestasi politik di Indonesia, mengingat jumlah jemaahnya yang besar. Jemaah NU adalah sumber insentif elektoral politik bersifat strategis, praktis, dan menentukan dalam satu kontestasi politik.
Kans Prof Nasaruddin merebut kursi Ketum PBNU sangat terbuka. Dalam perspektif historis NU, pernah ada tokoh dari luar Jawa (Kalimantan Selatan) memegang jabatan Ketum PBNU cukup lama: KH Idham Chalid.
Kiai Idham yang pernah nyantri di Pondok Modern Gontor itu sebelum memangku jabatan Ketum PBNU, dikenal sebagai salah satu orang kepercayaan KH Abdul Wahab Chasbullah. Idham merupakan seorang ulama dan politisi sekaligus. Dia memimpin NU selama 28 tahun (1956-1984). Dia adalah Ketua Umum PBNU termuda yang menjabat selama 6 periode berturut-turut dan sukses mengantarkan NU meraih 18,4% suara pada Pemilu 1955.
Dia mengundurkan diri dari jabatan Ketum PBNU pada 1984 setelah sejumlah kiai sepuh NU memintanya mengundurkan diri. Keempat kiai sepuh NU itu adalah KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), KH Makhrus Ali (Lirboo Kediri), KH Ahmad Shiddiq (Jember), dan KH Masykur (Jakarta).
Desakan pengunduran diri Ketum PBNU ini mengakibatkan munculnya dua poros penting di kalangan keluarga besar NU. Pertama, Poros Cipete Jakarta di bawah pengaruh kuat KH Idham Chalid. Barisan pendukungnya mayoritas PPP berlatar belakang NU. Kedua, Poros Situbondo di bawah kendali KH As’ad Syamsul Arifin yang mengekspektasikan NU kembali ke Khittah 1926. Pada muktamar NU ke-27 di Pondok Salafiyah Syafi’iyah Asembagus Situnbondo, kubu Situbondo yang memenangkan pertarungan. Kubu ini menjagokan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Ketum dan KH Achmad Siddiq sebagai Rais Am.
Empat figur Ketum PBNU passa-kepemimpinan KH Idham Chalid adalah kiai dan intelektual NU yang berlatar belakang dari Pulau Jawa: Gus Dur (Jombang Jatim), KH Hasyim Muzadi (Tuban Jatim), KH Said Aqil Siradj (Cirebon Jabar), dan KH Yahya Cholil Staquf (Rembang Jateng).
Di antara sejumlah kiai dan tokoh NU yang berpeluang masuk bursa calon Ketum PBNU, nama Prof Dr KH Nasaruddin Umar punya kans masuk bursa dan bahkan terpilih sebagai Ketum PBNU. Banyak faktor yang bisa jadi pendorong kuatnya proses kandidasi Prof Nasaruddin di muktamar NU ke-35 tahun 2026. Satu di antaranya dia sekarang di dalam pagar kekuasaan.
Iklim lingkungan politik nasional dalam 12 tahun terakhir menunjukkan indikasi lemah dan kurangnya minat berbagai komunitas politik dan sosial tampil sebagai kekuatan penyeimbang di luar kekuasaan. Kultur berada dalam lingkungan kekuasaan lebih kuat dibanding budaya sebagai kekuataan penyeimbang di luar kekuasaan. [air/aje]






