Jember (beritajatim.com) – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada 2023 dikalahkan Kabupaten Banyuwangi dan Lumajang. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih mendominasi PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Kabupaten Jember.
Pertumbuhan ekonomi Jember pada 2023 adalah 4,93 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi Banyuwangi 5,03 persen dan Lumajang yang menyentuh lima persen. Tahun 2022, Jember memiliki pertumbuhan ekonomi lebih baik, yakni 4,53 persen berbanding pertumbuhan Banyuwangi dan Lumajang yang sama-sama menyentuh 4,43 persen.
Kendati dikalahkan dua kabupaten tetangga, Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Jember lebih baik daripada Situbondo (4,9 persen), Probolinggo (4,73), dan Bondowoso (4.62).
Bahkan BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Jember lebih bagus daripada Kabupaten Bojonegoro (2,47 persen) dan Kabupaten Magetan (4.47 persen). Rata-rata pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur sendiri adalah 4.95 persen.
Kepala BPS Jember Tri Erwandi menyatakan, struktur produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Jember 2023 masih didominasi pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 25,76 persen, disusul industri pengolahan sebesar 20,89 persen. Sementara itu sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor menyumbangkan 14,89 persen bagi PDRB Jember.
“Sementara itu berdasarkan komponen pengeluaran, pertumbuhan Kabupaten Jember didominasi pengeluaran konsumsi LNPRT (Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga) sebesar 7,08 persen,” kata Erwandi, ditulis Sabtu (2/3/3024).
Di tengah pertumbuhan positif tersebut, inflasi antartahun atau year-on-year Kabupaten Jember pada Februari 2024 mencapai 2,22 persen. Jauh lebih baik dibandingkan inflasi antartahun pada Februari 2023 yang mencapai 7,21 persen.
Inflasi antartahun terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran. Inflasi antartahun terbesar ada pada kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,21 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi antartahun adalah beras sebesar 1,11 persen.
Inflasi tertinggi antartahun berikutnya adalah kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,01 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi antartahun adalah nasi dengan lauk sebesar 0,03 persen.
Inflasi tertinggi ketiga antartahun adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,93 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi antartahun adalah emas perhiasan sebesar 0,12 persen
Sementara itu, komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi antartahun pada Februari 2024, antara lain adalah beras, daging ayam ras, cabai merah, emas perhiasan, bawang putih, Sigaret Kretek Tangan (SKT), dan gula pasir.
Sementara itu komoditas yang memberikan andil/ sumbangan deflasi antartahun antara lain: cabai rawit, tongkol di awetkan, ikan tongkol/ikan ambu-ambu. [wir]






