Surabaya (beritajatim.com) – Dahfi Adam, pengusaha muda yang satu ini bisa menjadi sosok inspirasi karena kegigihannya hingga sukses dengan brand home living 109 Pillow.
Dibalik kesuksesannya membesarkan bisnis bantal dan gulingnya ia merupakan seorang driver ojek online. Ia hanya bisa menunggu orderan dari customer untuk mendapatkan uang.
“Dulu saya hanya seorang driver ojek online. Penghasilan utama saya ketika ada orderan dari customer dan itu pun tidak menentu,” ungkap Dahfi selaku owner PT Semoga Berkah Sukses Group, Kamis (20/1/2022).
Di sela pekerjaannya sebagai driver ojek online, ia menyempatkan untuk jualan online. Bahkan ia sempat menelan pil pahit karena rumahnya digerebek oleh polisi layaknya penggerebekan bandar narkoba.
Padahal saat itu dirinya tengah mengerjakan produknya yaitu gendongan bayi dan juga helm. Kedua produk itu dinyatakan polisi sebagai produk ilegal karena belum mendapatkan izin SNI.
“Saya sendiri tidak tahu menahu mengenai perizinan terkait produk yang saya buat waktu itu. Karena usaha yang saya jalankan pun merupakan UMKM tanpa dampingan dan bimbingan. Saya menjalankan usaha secara otodidak belajar dari media dan YouTube,” ungkapnya.
Hal itu yang membuat dirinya tak mengetahui seluk-beluk perizinan yang bersifat hukum. Ia sama sekali tak tahu menahu kalau produk yang ia buat harus melalui perizinan hukum.
“Karena penangkapan waktu itu beberapa karyawan akhirnya menganggur. Bahan pembuatan produk dibiarkan begitu saja. Nilai produk yang waktu itu mencapai Rp 80 juta tidak bisa dilanjutkan karena perizinannya tidak ada, sedangkan untuk mengurusnya membutuhkan waktu yang lama,” papar Dahfi.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pengusaha-bantal”]
Akhirnya ia meminta waktu kepada polisi untuk membuat produk lain dengan mengurus ijin SNI sebagai bentuk kepatuhannya kepada hukum. Padahal saat itu, Dahfi belum tahu mau produk apa yang akan dibuat.
Untunglah permintaan tersebut disetujui dan pihak kepolisian memberikan waktu selama 1 bulan. Di tengah memikirkan nasib karyawannya itulah, ia berpikir keras untuk membuat produk yang bisa mempekerjakan karyawannya lagi sehingga mereka tidak menganggur.
Lalu tercetuslah ide home living produk berupa bantal dan guling yang dibutuhkan banyak orang. Dari sanalah, mulai memikirkan hal-hal detail seperti nama merek dagang, pembuatan logo, surat perizinan ber SNI dan lain-lain.
“Lalu ditempelkan bendera Amerika Serikat dengan harapan kualitasnya sudah internasional. Tapi terjadi masalah juga waktu itu karena pada produk kami tidak boleh menambahkan bendera. Namun akhirnya diperbolehkan dengan berbagai pertimbangan,” ungkapnya.

Nama 109 Pillow sendiri menurut Dahfi juga mengalami beberapa kali perubahan hingga akhirnya ditambahkan angka 109. Angka tersebut merupakan nomor rumah Dahfi.
Dalam usahanya ia selalu meningkatkan manajemen usaha home livingnya agar terhandel dengan baik. Ia mempercayakan monitoring usahanya pada aplikasi online yang memuat semua informasi usaha miliknya. Mulai dari pemasukan, pengeluaran, stok barang dan lain-lain.
“Saat saya sudah bertekad untuk keluar dari riba saya mendapatkan banyak sekali ujian. Sampai akhirnya saya benar-benar bisa lepas dari riba yang justru rezeki malah datang bertubi-tubi. Waktu itu saya juga sempat berhutang sampai 220 juta rupiah dan akhirnya lunas. Hingga saat ini saya bisa punya usaha tanpa riba,” tutupnya.[way/ted]






