Jember (beritajatim.com) – Pemilihan umum tahun depan sebaiknya menghadirkan lebih dari dua pasangan calon presiden dan wakil presiden. Koalisi dengan jumlah partai terlampau besar justru tidak bagus untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kalau berdasarkan regulasi, sistem pemilu, dan konstelasi poros koalisi parpol saat ini, idealnya ada empat pasangan capres dan cawapres,” kata Muhammad Iqbal, pengamat dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (26/4/2023).
PDI Perjuangan bisa memunculkan satu pasangan. Sementara tiga pasangan lain dari poros Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri atas Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Golkar; poros Kebangkitan Indonesia Raya (KIR) yang terdiri atas Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa; serta Koalisi Perubahan yang terdiri atas Partai Nasdem, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Demokrat.
“Kompetisi yang sehat dari empat capres dan cawapres ini memungkinkan Indonesia menjadi negara demokrasi yang sehat. Pesta demokrasi ini akan mampu mendidik generasi bangsa jadi lebih dewasa dan punya literasi pendidikan politik yang lebih baik,” kata Iqbal.
Berangkat dari gagasan ini, Iqbal bersyukur ide koalisi besar yang sempat dilontarkan Presiden Joko Widodo untuk mencalonkan Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo berantakan. “Jika narasi koalisi obesitas yang diarahkan oleh Presiden Jokowi hanya menyuguhkan dua pasangan kandidat, bisa terkadi polarisasi akut yang membelah persatuan dan kesatuan bangsa hingga menggerus kerukunan antarwarga,” katanya.
Menurut Iqbal, saat ini orkestrasi politik berada di tangan Ketua Umum PDI Pwerjuangan Megawati Sukarnoputri, bukan di tangan Jokowi. KIB dan KIR kini sama-sama menunggu sosok calon wapres pendamping Ganjar.
“Tentu tidak mudah memastikannya. Jika Prabowo bersedia jadi cawapres Ganjar, sangat mungkin PKB, Golkar, PPP dan PAN akan punya jalan yang berbeda. Kita lihat saja drama apa lagi yang akan terjadi,” kata Iqbal.
Menurut Iqbal, nasib Prabowo tergantung pada dirinya sendiri. “Kalau Prabowo memang seorang ksatria berjiwa patriot, seharusnya istiqomah maju menjadi capres dan bertarung dengan Ganjar dan Anies, maupun dengan capres dari KIB.
“Namun jika mengedepankan pragmatisme dan oportunisme politik, mungkin saja Prabowo memilih ‘men-downgrade’ dirinya dan rela menjadi cawapres Ganjar,” kata Iqbal. [wir]






