Surabaya (beritajatim.com) – Pedagang di kawasan wisata religi Makam Sunan Ampel Surabaya mendatangkan sedikitnya 7 ton kurma impor langsung dari Arab guna memenuhi lonjakan permintaan menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (24/2/2026).
Stok melimpah ini disiapkan para pelaku usaha untuk mengantisipasi tingginya pesanan konsumen yang diprediksi akan terus meningkat hingga menjelang Hari Raya Idulfitri mendatang.
Salah seorang pedagang kurma di area tersebut, Ahmadi (32), mengungkapkan bahwa kiriman 7 ton kurma tersebut merupakan stok awal untuk mengawali musim dagang Ramadan tahun ini. Jumlah pasokan ini bersifat dinamis dan kemungkinan besar akan ditambah kembali apabila volume pembeli mengalami peningkatan signifikan pada pertengahan bulan puasa.
“Sejak sebelum Ramadan saya baru stok sampai 7 ton untuk memenuhi permintaan pembeli,” kata Ahmadi saat ditemui di lapaknya, Selasa (24/2/2026).
Ahmadi menjelaskan bahwa kualitas menjadi prioritas utama para pedagang di kawasan Sunan Ampel, sehingga mereka memilih mendatangkan kurma langsung dari negara produsen. Menurutnya, terdapat tiga jenis kurma yang menjadi primadona dan paling diburu oleh pelanggan karena reputasi rasanya yang tersohor.
“Impor dari Arab langsung, soalnya kita mencari kualitas. Dan yang banyak dicari pembeli adalah kurma Madinah, Mesir, Tunisia,” ungkap Ahmadi.
Harga yang ditawarkan di kawasan ini cukup bervariatif dan kompetitif, yakni berkisar antara Rp40 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. Penentuan harga tersebut sangat bergantung pada jenis, tekstur, hingga kualitas grade kurma yang dipilih oleh pembeli.
“Harga ini disesuaikan dengan kualitas, jenis dan rasa kurmanya,” ucap Ahmadi.
Senada dengan Ahmadi, Zaki (19), pedagang lainnya, memaparkan alasan di balik populernya kurma asal Tunisia di kalangan masyarakat. Jenis ini dibanderol dengan harga tertinggi karena memiliki keunggulan fisik dan rasa yang sangat khas dibandingkan jenis lainnya.
“Kurma paling laris Tunisia, harganya Rp100 ribu per kilogram. Rasanya ini manis, kenyal,” kata Zaki. Ia menambahkan bahwa kurma Tunisia digemari karena memiliki tekstur yang kenyal, biji yang cenderung kecil, serta daging buah yang tebal dan legit.
Aktivitas perniagaan di kawasan wisata religi Sunan Ampel ini tercatat berlangsung selama 24 jam penuh tanpa henti, bahkan tetap beroperasi meski dalam kondisi cuaca hujan. Pangsa pasar kurma di wilayah ini pun sangat luas, menjangkau konsumen dari luar kota yang sengaja datang untuk berburu kebutuhan Ramadan.
“Pembeli tidak hanya dari Surabaya, dari daerah-daerah lainnya juga banyak yang datang ke sini,” pungkas Zaki. [rma/ian]






