Pacitan (beritajatim.com) – Pedagang durian di Kabupaten Pacitan mulai meraup omzet fantastis hingga Rp7 juta per hari meskipun wilayah tersebut belum memasuki masa panen raya. Durian lokal asal Kecamatan Arjosari dan Tulakan menjadi primadona yang kini mulai membanjiri kawasan perkotaan sejak awal Desember lalu.
Arindra Datta Adhy Prasetya (32) menjadi salah satu pedagang dadakan yang menangkap peluang manis dari aroma legit buah berduri ini. Warga Dusun Kebonredi, Desa Tanjungsari, ini membuka lapaknya di Jalan dr Soetomo, tepatnya di area dekat pintu masuk TPU Giri Sampurno.
Setiap pagi, Arindra bersama adiknya sibuk menata deretan durian berdasarkan ukuran, mulai dari kelas kecil hingga kategori jumbo. Meskipun stok di tingkat petani masih terbatas, ia konsisten menyajikan kualitas buah terbaik untuk para pelanggannya di pusat kota.
“Kita mengusung durian lokal, dari daerah Arjosari dan Tulakan. Kondisi ini belum panen raya, jadi durian masih tergolong langka,” ujar Arindra, Jumat (23/1/2026).
Guna menjaga ketersediaan barang, Arindra harus proaktif berkeliling ke kebun-kebun warga di pelosok Kecamatan Tulakan dan Arjosari. Buah yang mulai matang di pohon langsung dibelinya untuk kemudian dijajakan secara segar kepada para penikmat durian.
Lokasi berjualan yang hanya berjarak 300 meter dari Pendopo Kabupaten Pacitan membuat lapak Arindra sangat strategis bagi kalangan pegawai kantoran. Kawasan perkotaan yang ramai membuat akses konsumen menjadi lebih mudah sehingga transaksi harian selalu terjaga stabilitasnya.
“Setiap musim kita selalu jualan. Dari tahun 2011 sudah berjualan durian. Kalau tahun ini, kita mulai dari awal Desember,” jelasnya mengenai jam terbangnya di bisnis buah musiman.
Para pembeli juga diberikan keleluasaan untuk langsung menyantap buah durian pilihan mereka di lokasi lapak. Kehadiran tumpukan kulit durian di sekitar meja dagangan menjadi bukti nyata ramainya kunjungan pembeli setiap harinya.
Dalam sehari, Arindra mengaku mampu menjual antara 70 hingga 120 buah durian kepada masyarakat setempat maupun pelancong. Volume penjualan yang tinggi ini secara otomatis mendongkrak pendapatan harian secara signifikan di luar musim puncak.
“Omzetnya antara Rp5 juta sampai Rp7 juta per hari,” ungkap Arindra secara terbuka mengenai pendapatan yang berhasil diraupnya.
Variasi harga yang ditawarkan sangat fleksibel, menyesuaikan dengan dimensi serta kualitas rasa dari masing-masing buah. Konsumen dapat membawa pulang durian lokal mulai harga Rp25 ribu hingga Rp200 ribu per buah untuk kualitas paling unggul.
Arindra merasa sangat optimistis bahwa tingkat kunjungan pembeli akan melonjak drastis saat musim panen raya benar-benar tiba. Bagi dirinya, musim durian bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ladang rezeki yang sangat menjanjikan di setiap pergantian tahun. [tri/beq]






