Pacitan (beritajatim.com) – Kondisi Pasar Minulyo di Kelurahan Baleharjo, Kabupaten Pacitan, semakin hari kian sepi. Para pedagang mengeluhkan menurunnya jumlah pengunjung dan minimnya transaksi jual beli. Fenomena ini diakui langsung oleh Kepala Dinas Perdagangan dan Ketenagakerjaan Kabupaten Pacitan, Ecep Suherman.
Menurut Ecep, penurunan aktivitas di pasar tradisional kota sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu penyebab utama adalah perubahan kebiasaan belanja masyarakat yang kini lebih memilih layanan daring dan belanja di kios modern yang buka 24 jam.
“Kalau pasar di daerah atau desa-desa masih stabil. Tapi di kota, orang lebih memilih belanja online. Sayuran pun banyak tersedia di kios pinggir jalan yang buka 24 jam. Apalagi pakaian, masyarakat lebih suka belanja lewat aplikasi,” ujarnya, Kamis (8/5/2025).
Minimnya ketertarikan generasi muda untuk berkunjung ke pasar turut memperparah kondisi. Pemerintah Kabupaten Pacitan sempat menggandeng karang taruna untuk menghidupkan kembali pasar melalui media sosial seperti TikTok, namun belum membuahkan hasil.
“Kita coba lewat media sosial seperti TikTok, tapi juga tidak berhasil. Kita tengah mempersiapkan konsep pasar digital. Saat ini masih kita godok,” tambahnya.
Ecep menyebut Pacitan tertinggal dibandingkan daerah lain dalam hal digitalisasi pasar. Produk luar daerah lebih mendominasi pasar online, sementara produk lokal belum maksimal dipasarkan.
Selain pengunjung yang menurun, jumlah pedagang aktif juga terus menyusut. Banyak kios yang masih disewa namun jarang dibuka. Di kawasan sentra kuliner Pasar Minulyo misalnya, hanya sedikit pedagang yang tetap berjualan, sementara sebagian besar memilih berjualan di pinggir jalan.
“Kondisinya memang seperti mati suri,” pungkas Ecep. [tri/beq]






