Bondowoso, (beritajatim.com) – Kabupaten Bondowoso menjadi salah satu daerah di Jawa Timur yang masuk dalam sentra perkebunan tembakau. Sebagian petani setempat bertani menggunakan metode Pranoto Mongso atau penentuan kalender bertani khas suku Jawa.
Bahkan para pedagang tembakau juga menaksir kualitas tembakau terbaik menggunakan metode tersebut.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Bondowoso, Ahmad Yasid mengatakan, di metode tersebut, kualitas tembakau terbaik adalah yang diolah pada bulan September.
“Jadi banyak perusahaan menyerap tembakau sebanyak mungkin di bulan 9 ini. Beberapa perusahaan menggunakan rumus Pranoto Mongso,” kata Yasid kepada BeritaJatim.com, Selasa (10/9/2024).
Namun tantangan justru dihadapi petani saat puncak pengolahan pasca panen tembakau terbaik ini.
“Ini berkaitan dengan cuaca yang tidak menentu. Kemarin kita hujan cukup deras tentu memberikan efek atau pengaruh di dalam hal pertumbuhan,” ulasnya.
Menurutnya, apabila hujan hanya turun 1-2 hari kemudian kering, itu sangat bagus untuk kualitas tembakau.
“Dimana kualitas tanaman akan cenderung bagus. Artinya kesehatan tanaman berkembang. Penyerapan pupuk yang awalnya tidak tidak terserap, dengan adanya hujan, insya Allah terserap,” urai Yasid.
Sebaliknya apabila hujan turun terus menerus di saat tanah masih lembab, itu akan berdampak buruk pada kualitas tembakau.
“Itu sangat berbahaya. Pasti kualitasnya turun dari sisi warna, aroma dan kelembaban,” ucapnya.
Oleh sebab itu, Yasid berharap hujan yang turun kemarin tidak terulang rutin dengan periode yang singkat.
“Sebab penjualan tembakau terbaik digenjot di bulan September ini. Kalau hujan, itu akan pengaruh pada kualitas, harga serta pendapatan petani,” sebutnya. (awi/but)






