Surabaya (beritajatim.com) — Indonesia semakin mantap melangkah menuju visi hijau dengan upaya mengakselerasi penggunaan energi bersih. Salah satu terobosan inovatif yang tengah dikembangkan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Karangkates. Proyek ini akan menjadi ikon baru di Kabupaten Malang dengan memanfaatkan Waduk Karangkates sebagai dasar instalasinya dan diharapkan mampu menghasilkan daya hingga 100 MWac.
PLN Nusantara Power (PLN NP) melalui anak perusahaan PLN Nusantara Renewables (PLN NR) berkolaborasi dengan GD Power untuk mewujudkan infrastruktur energi ramah lingkungan ini.
Pembangunan PLTS Terapung Karangkates menandai langkah strategis untuk memaksimalkan potensi energi terbarukan di Indonesia, khususnya di area yang sebelumnya telah memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sutami. Proyek ini tidak hanya akan meningkatkan kapasitas energi hijau nasional, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam mendukung target bauran energi terbarukan pemerintah.
“Pengembangan PLTS Terapung Karangkates adalah bukti nyata komitmen kami dalam mempercepat transformasi energi di Indonesia,” ujar Ruly Firmansyah, Direktur Utama PLN NP, sembari menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Kolaborasi Internasional untuk Menjawab Tantangan Iklim
Komitmen PLN NP dalam mengembangkan energi terbarukan mendapat sambutan hangat dari GD Power. Zhao Zhigang, Authorized Representative GD Power, mengungkapkan bahwa perubahan iklim adalah tantangan global yang membutuhkan kerjasama lintas negara.
“Kami siap mendukung proyek PLTS Terapung Karangkates dengan prinsip keterbukaan dan kerjasama saling menguntungkan. Ini bukan hanya upaya untuk Indonesia, tetapi juga kontribusi bagi komunitas global dalam melawan perubahan iklim,” jelas Zhao.
Selain di Malang, PLN NP juga memiliki beberapa proyek energi bersih yang telah sukses, seperti PLTS Terapung Cirata dengan kapasitas 145 MWac dan PLTS IKN 10 MW yang sedang dikembangkan menuju 50 MW untuk mendukung ibu kota baru Indonesia sebagai smart city berkelanjutan. Berbagai proyek ini menjadi bagian dari Green Energy Movement (GEM) PLN NP, yang berfokus pada pengembangan sumber energi terbarukan dan upaya mengurangi emisi karbon.
Energi Hijau: Solusi untuk Ekonomi Berkelanjutan dan Pengurangan Emisi
Transisi energi bersih bukan hanya tentang kelestarian lingkungan tetapi juga ekonomi yang berkelanjutan. Dalam acara Green Webinar yang diadakan Asosiasi Media Siber Indonesia dan BBC Media Action, Tri Mumpuni, anggota pengarah BRIN, mengingatkan pentingnya partisipasi masyarakat.
“Jika masyarakat sadar akan pentingnya konservasi, mereka akan mendukung pembangunan energi hijau seperti mikro hidro yang dapat menghidupi komunitas mereka sendiri,” ujarnya.
Pada level yang lebih luas, CEO Landscape Indonesia, Agus P. Sari, mengingatkan bahwa peralihan ke energi bersih harus adil dan inklusif. Ia menekankan pentingnya mengatasi konflik kepentingan yang mungkin terjadi dari pihak yang memiliki kepentingan di sektor energi fosil.
Agus menggarisbawahi bahwa transformasi energi seharusnya tidak hanya melibatkan perusahaan besar, tetapi juga komunitas, untuk menciptakan dampak positif yang menyeluruh.
Transformasi Energi untuk Masa Depan Lebih Hijau
PLN NP memproyeksikan tambahan 6,3 GW dari energi baru terbarukan (EBT) pada tahun 2030, seiring upaya menuju target Net Zero Emission (NZE) pada 2060. Teknologi co-firing yang menggabungkan biomassa dengan batubara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menjadi salah satu solusi PLN dalam menurunkan emisi karbon. Selama tahun 2023, PLN NP berhasil menghasilkan 525,62 GWh energi bersih dari co-firing, melampaui target dengan capaian 111,44 persen.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan bahwa transisi energi harus dilakukan secara kolaboratif dan berkelanjutan demi menjaga keseimbangan ekonomi dan lingkungan.
“Transisi ini jembatan masa depan yang lebih hijau dan inklusif. Kami mendesain ulang strategi agar masyarakat dapat mengakses energi bersih yang terjangkau,” kata Darmawan.
Tantangan dan Harapan Menuju Indonesia Hijau
Di tengah upaya besar menuju energi terbarukan, muncul tantangan kompleks, termasuk potensi konflik kepentingan di kalangan legislatif dan eksekutif yang terkait dengan bisnis tambang batubara. CEO Nusantics, Sharlini Eriza Putri, menyebut bahwa transisi energi bersih membutuhkan strategi investasi yang matang, terlebih jika harga listrik terbarukan lebih tinggi dibandingkan dengan energi fosil.
Kendati tantangan terus menghadang, PLTS Terapung Karangkates dan proyek-proyek serupa membawa harapan akan masa depan energi yang lebih hijau. Dengan memanfaatkan potensi alam secara optimal dan mengutamakan keterlibatan masyarakat, Indonesia memiliki peluang besar untuk mewujudkan visi negara hijau yang berkelanjutan dan menjawab tantangan iklim global.
Kolaborasi lintas pihak menjadi kunci dalam mempercepat transformasi energi dan memastikan keberhasilan perjalanan Indonesia menuju masa depan yang lebih bersih dan hijau. [beq]






