Jember (beritajatim.com) – Menu Makan Bergizi Gratis harus memperhatikan kebutuhan diet anak penderita autisme, sehingga tidak berakibat buruk terhadap mereka.
Tri Budi Santoso, konsultan terapis okupasi bidang pediatri dan dosen Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surakarta, menyarankan identifikasi secara benar terhadap anak-anak autis di semua lembaga pendidikan yang menerima MBG.
“MBG bagus. Tapi perlu penyesuaian dari segi quality dan quantity untuk anak autis, karena ada anak autis yang tidak bisa makan roti, gluten free, terigu free, kafein free. Kalau anak autis diberikan gluten dan kafein ya tambah parah autisnya,” kata Tri, usai acara seminar tantang autisme yang diselenggarakan Yayasan Garizmu, di Kota Cinema Mall, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (11/4/2026).
Menurut Tri, hal itu tidak sulit. “Sangat mudah, harus ada upaya SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dan ahli gizi untuk memberikan makanan diet yang pas untuk anak mendapat suplai MBG,” katanya.
Tri menyarankan para pengelola SPPG untuk belajar soal anak-anak berkebutuhan khusus, terutama autis, dan anak-anak yang mengalami gangguan pencernaan maupun alergi. “Alergi macam-macam, ada yang alergi udang, alergi telur, dan sebagainya. Jadi MBG harus disesuakan dengan kebutuhan mereka,” katanya.
Tri tak ingin keberadaan MBG justru menimbulkan problem medis bagi anak autis. “Karena makanannya itu-itu saja sesuai dengan jadwal rutinitas, tapi tidak sesuai kebutuhan mereka,” katanya.
Sejauh ini Tri belum menerima laporan adanya siswa autis yang mengalami problem karena menu MBG. Namun dia merasa perlu mengingatkan pengelola SPPG agar berhati-hati dan bijak dalam menyediakan menu. [wir/but]






