Jember (beritajatim.com) – Ada satu hal yang senantiasa menghantui Herwindro Wicaksono dan Rizma Endah Susanti, pasangan suami istri warga Kabupaten Jember, Jawa Timur: bagaimana nasib anak sulung mereka, Rizqy Adiputra Wicaksono, setelah mereka meninggal dunia.
Rizqy dilahirkan pada 16 Februari 2010 dalam kondisi autis berat. Sejak kecil hingga usianya ke-16 tahun, dia sangat tergantung pada orang tuanya: mulai dari urusan makan, mandi, hingga merapikan diri sendiri.
Rizqy sulit bersosialisasi dengan orang lain. Autisme membuat dunianya sunyi. Dia tak bicara. Hanya mendengar. Hanya melihat. Dan hanya bisa merengek jika menginginkan sesuatu. Sesekali dia membuat Herwindro dan Rizma cemas saat membentur-benturkan kepala atau melukai diri sendiri.
“Bagaimana kalau saya meninggal, dia belum bisa apa-apa. Bagaimana nasib anak saya kalau saya sama papanya enggak ada, dia ke mana?” kata Rizma.
Di tengah rasa lelah dan putus asa, Rizma sempat memanjatkan doa dengan meneteskan air mata. “Ya Allah, kalau memang tiba waktunya, tolong umur Kakak dan saya disamakan, ambil saya dan anak saya, karena memang tidak ada yang bisa dititipi,” katanya.
Rizqy punya dua adik yang masih berusia 10 tahun dan empat tahun. Herwindro dan Rizma kini mempersiapkan kedua anak mereka untuk bisa menerima sang kakak.
“Cuma kami sadar beban ini sebenarnya bukan buat adik-adiknya. Sebenarnya ini ujian yang ditujukan Allah bagi orang tuanya. Saya akhirnya memberikan pemahaman: ya sudah lah kamu yang penting bisa menerima Kakak,” kata Herwindro.
Tri Budi Santoso, konsultan terapis okupasi bidang pediatri dan dosen Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surakarta, mengatakan orang tua memang harus mempersiapkan kemampuan anak autis untuk mandiri dan tidak tergantung pada orang lain.
“Karena kalau misalnya orang tua meninggal dan anak tidak disiapkan untuk mandiri, maka anak akan tergantung dan akan menjadi beban masyarakat dan negara. Kalau tidak diurusi mulai sekarang, sangat berbahaya,” kata Tri, usai acara seminar tentang autisme yang diselenggarakan Yayasan Garizmu di Kota Cinema Mall, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (11/4/2026).
Hal pertama yang harus dilakukan orang tua adalah menerima kondisi anak yang autis. “Pintu masuk untuk bisa mengasuh dengan baik adalah semua keluarga, dari ayah, ibu, keluarga besar menerima dulu kondisi sang anak,” kata Tri.
Dari penerimaan tersebut, orang tua bisa belajar memahami anak secara keseluruhan. “Baru mencari bantuan, baik sekolah maupun tempat terapi. Kemudian tidak lupa untuk bisa membagi keseimbangan hidupnya, dan memformat anak itu nanti saat dewasa mau disiapkan untuk apa,” kata Tri.
Endang Guritno, psikolog Yayasan Gapai Rizki Mulia (Garizmu) Jember, mengatakan, seringkali anak autis memiliki komorbid.
“Autis bukan sebuah penyakit, tapi gangguan perkembangan yang mempengaruhi sistem saraf dan metabolisme tubuh, sehingga mau tidak mau biasanya autisme itu adalah spektrum dari yang paling ringan sampai yang paling berat,” katanya.
Gangguan perubahan hormonal sering membuat anak-anak autis memasuki fase kritis pada masa remaja, dan sebagian di antaranya tak berusia panjang.
Penderita autisme level pertama dan kedua masih bisa diupayakan untuk bekerja dan beraktivitas layaknya orang pada umumnya, kendati harus dikontrol secara medis.
Ini berbeda dengan autisme level ketiga yang lebih berat dan kompleks, sebagaimana anak Herwindro dan Rizma. “Mereka bisa bertahan karena support dari orang tua,” kata Endang.
Keluarga memang memegang faktor kunci dalam perawatan dan penanganan anak autis. Dalam banyak kasus, keluarga menolak kehadiran anak autis karena menganggapnya sebagai aib. Akhirnya penanganannya tak maksimal karena mereka enggan membawa anak mereka untuk menjalani terapi.
Bahkan kehadiran anak autis dalam beberapa kasus memicu pertengkaran pasangan suami istri. “Pihak suami menyalahkan pihak perempuan, sehingga menceraikannya,” kata Endang.
Setelah bisa menerima keadaan, sebagian pasangan suami istri kemudian mencari solusi bersama. Salah satunya adalah mendatangkan terapis ke rumah. Namun, menurut Endang, penanganan anak autis di rumah memiliki keterbatasan fasilitas. Jadi dia menyarankan agar anak autis dibawa ke tempat terapi.
Endang berpesan kepada seluruh orang tua yang memiliki anak autis untuk tidak menyerah. “Kita harus terus berjuang. Karena usia anak ini terus bertambah, kita tidak bisa terus-menerus meratapi diri sendiri. Kita harus berjuang demi masa depan anak,” katanya.
Itulah yang dilakukan Herwindro dan Rizma. Mereka berhenti meratapi diri sendiri. Setelah belasan tahun merawat Rizqy, mereka kemudian mendirikan Yayasan Gapai Rizki Mulia (Garizmu) yang khusus menangani anak-anak autis. Dari sana, mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri. [wir/kun]






