Malang (beritajatim.com) – Menteri Komunikasi, Digitalisasi, dan Informatika (Komdigi) Meutya Hafid usai meninjau Koperasi Merah Putih Karangbesuki, Kota Malang berharap kesiapan infrastruktur digital mampu memasifkan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tergabung dalam koperasi.
Disisi lain pelatihan digital bagi para pengurus koperasi juga harus dilakukan agar mereka cakap saat berselancar memasarkan dagangan di internet. Menurutnya, Kementerian Komdigi akan terus mendorong digitalisasi mulai memastikan infrastruktur digital hingga melakukan pelatihan digitalisasi.
“Kami sudah cek di wilayah ini, sinyalnya sudah cukup baik. Kedua adalah melakukan pelatihan dan upskilling untuk digitalisasi dari koperasi. Agar layanan-layanan yang dilakukan oleh Koperasi Merah Putih ini juga bisa berbasis digital. Supaya lebih efisien, lebih transparan, lebih luas bagi semua,” ujar Meutya.
Meutya menjelaskan bahwa mereka akan memberikan bantuan laptop 15 unit pada 15 Koperasi Merah Putih di Kota Malang yang telah dinilai paling siap. Bahkan untuk pelatihan digitalisasi 15 koperasi merah putih di Malang akan menjadi percontohan.
“Kita berikan bantuan laptopnya karena rupanya belum ada untuk koperasi (Karangbesuki) dan juga 15 kooperasi lainnya. Dan kemudian secara bersamaan nanti 15 koperasi ini sebagai pilot project kami ya ini akan kita beri pelatihan bersama. Nanti mungkin secara perwilayah kita akan melakukan pelatihan bersama-sama untuk bagaimana bisa memanfaatkan teknologi digital,” ujar Meutya.
Komdigi akan menggandeng berbagai pihak, termasuk Relawan TIK dan perguruan tinggi dalam pembelajaran digitalisasi. Nantinya, kurikulum pelatihan digitalisasi akan dirancang berdasarkan masukan langsung dari para pengurus koperasi, seperti pembukuan digital, keamanan siber, sampai strategi pemasaran.
“Model pelatihan di Malang ini bisa kita jadikan contoh untuk diterapkan di Koperasi Merah Putih lainnya se-Indonesia,” ujar Meutya.
Sementara Anggota Koperasi Merah Putih Karangbesuki Ni Kadek Sinta mengakui bahwa kehadiran koperasi Merah Putih menjadi wadah bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produknya. Termasuk usahanya dibidang kuliner. Namun, ada beberapa kendala yang dihadapi. Salah satunya adalah jangkauan pemasaran.
“Jadi kami ini sebagai wadah bagi para UMKM, produk-produk mereka dititipkan ke kami, ada pencatatannya. Istilahnya kami ini tokonya, lapaknya, market place-nya,” ujar Sinta.
Tetapi semangat para pelaku UMKM juga dihadapkan dengan situasi sulit ekonomi yang lesu. Kondisi ini benar-benar mereka rasakan dampaknya. Keberadaan KMP bagi mereka adalah secerca harapan meski masih berusia 3 bulan berjalan.
“Apalagi kondisi ekonomi saat ini lagi turun ya, jadi kami berupaya untuk meningkatkan usaha mereka, bisa meningkatkan penjualan,” ujar Sinta.
Di KMP Karangbesuki menjual aneka produk UMKM mulai dari keripik pisang, produk inovatif seperti Makanan Pendamping ASI (MPASI) dari otak dan hati sapi untuk mencegah stunting, lilin aromaterapi hasil daur ulang minyak jelantah hingga kopi dampit.
Untuk pemasaranya melalui offline atau penjualan langsung dan online lewat whatsapp. Mereka juga rutin mengikuti bazar agar produk mereka terus terjual dan tidak berhenti produksi.
“Kami selain offline juga jualan online melalui WA Group, Lapak Karangbesuki, pembelian melalui WA Group. Offline-nya kami seperti ikut event kelurahan, juga mengikuti bazaar porprov kemarin selama 4 hari, bergiliran dengan kelurahan lain,” ujar Sinta. (luc/but)






