Malang (beritajatim.com) – STIE Malangkuçeçwara menghadirkan integrasi platform Coursera sebagai bagian dari sistem pembelajaran untuk membuka akses kelas global bagi mahasiswa. Melalui skema ini, mahasiswa tidak hanya belajar dari materi internasional berbasis studi kasus, tetapi juga berpeluang mempercepat masa studi dengan dukungan metode belajar yang lebih fleksibel.
Melalui platform tersebut, mahasiswa dapat mengakses materi dari berbagai universitas dunia dengan pendekatan berbasis studi kasus. Setiap topik pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi langsung diikuti simulasi persoalan nyata yang dirancang untuk mengasah kemampuan analitis.
Selain itu, sistem evaluasi modular diterapkan secara konsisten, di mana hampir setiap bab dilengkapi pengujian untuk memastikan mahasiswa memahami materi sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Wakil Ketua III STIE Malangkuçeçwara, Dr. Drs. Kadarusman, Ak., M.M., CA., AFA, menjelaskan bahwa pendekatan ini memberikan pengalaman belajar yang tidak sepenuhnya bisa diperoleh melalui metode konvensional.
Ia menyebut mahasiswa memperoleh kesempatan belajar dari luar kampus, membandingkan metode pembelajaran, sekaligus memperkaya wawasan akademik mereka.
“Mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman belajar dari luar kampus, membandingkan metode pembelajaran, serta memperkaya wawasan mereka,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa hasil pembelajaran dari platform tersebut dapat dikonversi ke dalam sistem Satuan Kredit Semester (SKS), sehingga tetap selaras dengan kurikulum kampus.
“Integrasi Coursera ini berjalan seiring dengan upaya kampus dalam memperkuat hard skill dan soft skill mahasiswa melalui berbagai program lain. Namun demikian, kehadiran platform global tersebut dinilai memberikan nilai tambah karena membuka akses terhadap perspektif internasional sekaligus memperkenalkan standar pembelajaran yang lebih aplikatif,” jelas Kadarusman pada beritajatim.com, Senin (4/5/2026).
Dampak implementasi tersebut terlihat pada capaian Arsyelia Gantari, salah satu wisudawan terbaik semester gasal tahun akademik 2025/2026. Ia berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 3,5 tahun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94. Capaian tersebut tidak hanya ditopang oleh strategi akademik yang matang, tetapi juga oleh kemampuannya memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran, termasuk platform Coursera.
Arsyelia mengaku mengatur ritme studinya secara agresif sejak awal perkuliahan. Pada semester tujuh, ia mengambil langkah yang relatif tidak umum dengan menjalani program magang bersamaan dengan penyusunan skripsi. Keputusan tersebut, menurutnya, menjadi salah satu faktor yang mempercepat masa studinya.
“Saya di semester tujuh mengambil internship sekaligus skripsi. Itu memang extra effort, tapi sangat membantu untuk lulus lebih cepat,” ungkapnya selepas di wisuda beberapa waktu lalu.
Ia menjalani program magang di perusahaan holding outsourcing, PT Alpha, yang memberinya pengalaman langsung terkait dinamika operasional bisnis. Bahkan, masa magangnya sempat diperpanjang karena dinilai mampu memberikan kontribusi positif bagi perusahaan.
Pengalaman lapangan tersebut kemudian dipadukan dengan pendekatan akademik yang diperolehnya melalui Coursera. Arsyelia menilai metode pembelajaran berbasis studi kasus di platform tersebut memudahkan dirinya dalam memahami konsep sekaligus mengaitkannya dengan praktik nyata di lapangan.
“Di sana, setiap materi langsung disertai study case, jadi lebih mudah dipahami. Ujiannya juga modular, hampir setiap bab ada evaluasi,” katanya.
Pemahaman tersebut berkontribusi dalam penyusunan skripsinya yang mengangkat isu green accounting. Penelitian tersebut berfokus pada penerapan prinsip reduce, reuse, recycle dalam meningkatkan efisiensi biaya sekaligus mendorong keberlanjutan usaha di PT Semen Indonesia. Topik ini menuntut kemampuan analisis yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga kontekstual terhadap praktik industri yang terus berkembang ke arah keberlanjutan.
Bagi Arsyelia, kombinasi antara pengalaman magang dan pembelajaran digital global menciptakan pola belajar yang lebih komprehensif. Ia tidak hanya memahami materi dari sisi akademik, tetapi juga mampu melihat implementasinya secara langsung dalam dunia kerja. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyelesaian studinya sekaligus memperkuat kualitas hasil belajar yang dicapai. (dan/aje)






